Ini Yang Namanya Cinta (Kisah Renungan)



Eko Pratomo Suyatno, siapa yang tidak kenal lelaki bersahaja ini? Namanya sering muncul di koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan. Dialah salah seorang dibalik kemajuan industri reksadana di Indonesia dan juga seorang pemimpin dari sebuah perusahaan investasi reksadana besar di negeri ini.

Dalam posisinya seperti sekarang ini, boleh jadi kita beranggapan bahwa pria ini pasti super sibuk dengan segudang jadwal padat. Tapi dalam note ini saya tidak akan menyoroti kesuksesan beliau sebagai eksekutif. Namun ada sisi kesehariannya yang luar biasa!!!!

Usianya sudah tidak muda lagi, 60 tahun. Orang bilang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, tapi Pak Suyatno masih bersemangat merawat istrinya yang sedang sakit. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Dikaruniai 4 orang anak.

Dari isinilah awal cobaan itu menerpa, saat istrinya melahirkan anak yang ke empat. tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari sebelum berangkat kerja Pak Suyatno sendirian memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke tempat tidur. Dia letakkan istrinya di depan TV agar istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya sudah tidak dapat bicara tapi selalu terlihat senyum. Untunglah tempat berkantor Pak Suyatno tidak terlalu jauh dari kediamannya, sehingga siang hari dapat pulang untuk menyuapi istrinya makan siang.
Sorenya adalah jadwal memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa menanggapi lewat tatapan matanya, namun begitu bagi Pak Suyatno sudah cukup menyenangkan. Bahkan terkadang diselingi dengan menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan penuh kesabaran dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka. Sekarang anak- anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari…saat seluruh anaknya berkumpul di rumah menjenguk ibunya-- karena setelah anak-anak mereka menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing- - Pak Suyatno memutuskan dirinyalah yang merawat ibu mereka karena yang dia inginkan hanya satu 'agar semua anaknya dapat berhasil'.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati, anak yang sulung berkata:
“Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu." Sambil air mata si sulung berlinang.

"Sudah keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi,
kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak,
dengan berkorban seperti ini, kami sudah tidak tega melihat bapak,
kami janji akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”.
Si Sulung melanjutkan permohonannya. 


”Anak-anakku. ..Jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi, tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di sampingku itu sudah lebih dari cukup,dia telah melahirkan kalian….*sejenak kerongkongannya tersekat*… kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat dihargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini ?? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya seperti sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit." Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya.


Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno, merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu.


Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa-apa....disaat itulah meledak tangisnya dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru.


Disitulah Pak Suyatno bercerita : “Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkimpoiannya, tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 anak yang lucu-lucu..Sekarang saat dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama… dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit...” Sambil menangis.


"Setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya hanya dapat bercerita kepada Allah di atas sajadah..dan saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya...BAHWA CINTA SAYA KEPADA ISTRI, SAYA SERAHKAN SEPENUHNYA KEPADA ALLAH".


(Semoga Allah memberkahi para suami yang sholeh dan istri yang sholehah)


Sumber 

0 comments:

Tiga Bulan Tidak Mampu Memandang Wajah Suami

Cerita Cerita Inspiratif Dan Motivasi
Perkimpoian itu telah berjalan empat (4) tahun, namun pasangan suami istri itu belum dikaruniai seorang anak. Dan mulailah kanan kiri berbisik-bisik: “kok belum punya anak juga ya, masalahnya di siapa ya? Suaminya atau istrinya ya?”. Dari berbisik-bisik, akhirnya menjadi berisik.

Tanpa sepengetahuan siapa pun, suami istri itu pergi ke salah seorang dokter untuk konsultasi, dan melakukan pemeriksaaan. Hasil lab mengatakan bahwa sang istri adalah seorang wanita yang mandul, sementara sang suami tidak ada masalah apa pun dan tidak ada harapan bagi sang istri untuk sembuh dalam arti tidak peluang baginya untuk hamil dan mempunyai anak.

Melihat hasil seperti itu, sang suami mengucapkan: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, lalu menyambungnya dengan ucapan: Alhamdulillah.

Sang suami seorang diri memasuki ruang dokter dengan membawa hasil lab dan sama sekali tidak memberitahu istrinya dan membiarkan sang istri menunggu di ruang tunggu perempuan yang terpisah dari kaum laki-laki.

Sang suami berkata kepada sang dokter: “Saya akan panggil istri saya untuk masuk ruangan, akan tetapi, tolong, nanti anda jelaskan kepada istri saya bahwa masalahnya ada di saya, sementara dia tidak ada masalah apa-apa.

Kontan saja sang dokter menolak dan terheran-heran. Akan tetapi sang suami terus memaksa sang dokter, akhirnya sang dokter setuju untuk mengatakan kepada sang istri bahwa masalah tidak datangnya keturunan ada pada sang suami dan bukan ada pada sang istri.

Sang suami memanggil sang istri yang telah lama menunggunya, dan tampak pada wajahnya kesedihan dan kemuraman. Lalu bersama sang istri ia memasuki ruang dokter. Maka sang dokter membuka amplop hasil lab, lalu membaca dan mentelaahnya, dan kemudian ia berkata: “… Oooh, kamu –wahai fulan- yang mandul, sementara istrimu tidak ada masalah, dan tidak ada harapan bagimu untuk sembuh.

Mendengar pengumuman sang dokter, sang suami berkata: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, dan terlihat pada raut wajahnya wajah seseorang yang menyerah kepada qadha dan qadar Allah SWT.

Lalu pasangan suami istri itu pulang ke rumahnya, dan secara perlahan namun pasti, tersebarlah berita tentang rahasia tersebut ke para tetangga, kerabat dan sanak saudara.

Lima (5) tahun berlalu dari peristiwa tersebut dan sepasang suami istri bersabar, sampai akhirnya datanglah detik-detik yang sangat menegangkan, di mana sang istri berkata kepada suaminya: “Wahai fulan, saya telah bersabar selama

Sembilan (9) tahun, saya tahan-tahan untuk bersabar dan tidak meminta cerai darimu, dan selama ini semua orang berkata:” betapa baik dan shalihah-nya sang istri itu yang terus setia mendampingi suaminya selama Sembilan tahun, padahal dia tahu kalau dari suaminya, ia tidak akan memperoleh keturunan”. Namun, sekarang rasanya saya sudah tidak bisa bersabar lagi, saya ingin agar engkau segera menceraikan saya, agar saya bisa menikah dengan lelaki lain dan mempunyai keturunan darinya, sehingga saya bisa melihat anak-anakku, menimangnya dan mengasuhnya.

Mendengar emosi sang istri yang memuncak, sang suami berkata: “istriku, ini cobaan dari Allah SWT, kita mesti bersabar, kita mesti …, mesti … dan mesti …”. Singkatnya, bagi sang istri, suaminya malah berceramah di hadapannya.

Akhirnya sang istri berkata: “OK, saya akan tahan kesabaranku satu tahun lagi, ingat, hanya satu tahun, tidak lebih”. Sang suami setuju, dan dalam dirinya, dipenuhi harapan besar, semoga Allah SWT memberi jalan keluar yang terbaik bagi keduanya.

Beberapa hari kemudian, tiba-tiba sang istri jatuh sakit, dan hasil lab mengatakan bahwa sang istri mengalami gagal ginjal. Mendengar keterangan tersebut, jatuhnya psikologis sang istri, dan mulailah memuncak emosinya. Ia berkata kepada suaminya: “Semua ini gara-gara kamu, selama ini aku menahan kesabaranku, dan jadilah sekarang aku seperti ini, kenapa selama ini kamu tidak segera menceraikan saya, saya kan ingin punya anak, saya ingin memomong dan menimang bayi, saya kan … saya kan …”. Sang istri pun bad rest di rumah sakit.

Di saat yang genting itu, tiba-tiba suaminya berkata: “Maaf, saya ada tugas keluar negeri, dan saya berharap semoga engkau baik-baik saja”. “Haah, pergi?”. Kata sang istri. “Ya, saya akan pergi karena tugas dan sekalian mencari donatur ginjal, semoga dapat”. Kata sang suami.

Sehari sebelum operasi, datanglah sang donatur ke tempat pembaringan sang istri. Maka disepakatilah bahwa besok akan dilakukan operasi pemasangan ginjal dari sang donatur.

Saat itu sang istri teringat suaminya yang pergi, ia berkata dalam dirinya: “Suami apa an dia itu, istrinya operasi, eh dia malah pergi meninggalkan diriku terkapar dalam ruang bedah operasi”.

Operasi berhasil dengan sangat baik. Setelah satu pekan, suaminya datang, dan tampaklah pada wajahnya tanda-tanda orang yang kelelahan.

Ketahuilah bahwa sang donatur itu tidak ada lain orang melainkan sang suami itu sendiri. Ya, suaminya telah menghibahkan satu ginjalnya untuk istrinya, tanpa sepengetahuan sang istri, tetangga dan siapa pun selain dokter yang dipesannya agar menutup rapat rahasia tersebut.

Dan subhanallah …

Setelah Sembilan (9) bulan dari operasi itu, sang istri melahirkan anak. Maka bergembiralah suami istri tersebut, keluarga besar dan para tetangga.

Suasana rumah tangga kembali normal, dan sang suami telah menyelesaikan studi S2 dan S3-nya di sebuah fakultas syari’ah dan telah bekerja sebagai seorang panitera di sebuah pengadilan di Jeddah. Ia pun telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dan mendapatkan sanad dengan riwayat Hafs, dari ‘Ashim.

Pada suatu hari, sang suami ada tugas dinas jauh, dan ia lupa menyimpan buku hariannya dari atas meja, buku harian yang selama ini ia sembunyikan. Dan tanpa sengaja, sang istri mendapatkan buku harian tersebut, membuka-bukanya dan membacanya.

Hampir saja ia terjatuh pingsan saat menemukan rahasia tentang diri dan rumah tangganya. Ia menangis meraung-raung. Setelah agak reda, ia menelpon suaminya, dan menangis sejadi-jadinya, ia berkali-kali mengulang permohonan maaf dari suaminya. Sang suami hanya dapat membalas suara telpon istrinya dengan menangis pula.

Dan setelah peristiwa tersebut, selama tiga bulanan, sang istri tidak berani menatap wajah suaminya. Jika ada keperluan, ia berbicara dengan menundukkan mukanya, tidak ada kekuatan untuk memandangnya sama sekali.

(Diterjemahkan dari kisah yang dituturkan oleh teman tokoh cerita ini, yang kemudian ia tulis dalam email dan disebarkan kepada kawan-kawannya)

Semoga bisa menjadi ibrah bagi kita.


Sumber

0 comments:

Suamimu, Kekasihku…


Diandra sedang berada di sebuah caffee bersama teman sekantornya, Lia. Sudah menjadi kebiasaan keduanya sepulang kantor mereka ngopi di sana.
“Wanita itu ingin bertemu denganmu???”  Tanya Lia.
“Yup, wanita itu mengajaku berbicara empat mata, tapi aku belum menjawab permintaanya. Ia  sudah tau, lelakinya ada main denganku… “.
“Dan kau?? Mau menyudahinya???”
“Entahlah, aku terlanjur mencintainya…..”
Keduanya kemudian terlibat obrolan ringan seputar pekerjaan.
***
“Salahkah bila aku mencintai lelaki yang sudah beristri? Ravi. Dia atasanku. Seorang bos yang baik. Laki-laki idaman. Aku merasa sudah terjerat oleh cintanya, kebaikanya, kesederahanaanya. Beberapa hari ini aku merasa terganggu dengan permintaan istrinya yang ingin menemuiku. Jujur aku tidak tau apa yang akan aku katakan nanti saat bertemu dengannya. Aku juga tidak siap kehilangan orang yang aku cintai. Mungkin saja dia akan memberiku berpuluh juta rupiah supaya aku menjauhi suaminya. Mungkin dia akan mengancam aku dengan ancaman ala wanita galak yang suaminya selingkuh. Aku tidak tau. Wanita itu telah mengetahui aku ada main dengan suaminya. Mungkin saja akulah si wanita jahat. Yang telah merebut suami orang.”
Diandra gelisah di sudut kamarnya. Subuh menjelang namun belum juga matanya mampu ia pejamkan. Suara SMS membuyarkan angan-angannya.
“Diandra. Bisakan kita bertemu hari ini. Saya harap kamu mau. Sekali ini saja. Saya perlu bicara dengan kamu. Kabari saya. Lani.”
Lagi-lagi sms dari istri sang bos, mengharap dirinya mau bertemu, berbicara empat mata. Entah ini sms yang ke berapa kali. Yang pasti sudah cukup mengganggu kenyamanan Diandra.
Dua tahun  sudah ia menjalin hubungan gelapnya dengan Ravi, mengapa baru kali ini gangguan datang? Justru disaat dirinya sudah cinta mati dengan laki-laki tersebut?
“Cinta tak senikmat yang ku bayangkan, kehilangan bukankah hanya masalah waktu saja? Cepat atau lambat aku akan kehilangan laki-laki itu. Sadarlah Diandra, dia suami orang…”
***
Sudut Caffe, Diandra menunggu seseorang. Ia telah bulatkan tekad. Bertemu dengan istri sah si laki - laki yang kini mengisi kekosongan hatinya.
“Apapun yang akan terjadi, terjadilah. Aku telah siap dengan semuanya” Batin Diandra
Seorang wanita 40 tahunan menuju mejanya. Cantik. Mempesona. Elegan. Dengan set dress berwarna hitam, tersenyum ke arahnya.
“Wanita secantik ini?? Apanya yang kurang? Mengapa suaminya lebih menyukaiku?? Aku tak mau pusing. Aku hanya mau tau, apa maunya wanita ini menemuiku. Beberapa hari terakhir smsnya seolah menerorku. Hidupku tak nyaman, tidurpun tak nyenyak”. Batin Diandra.
Keduanya berjabat tangan. Dingin. Diandra coba tersenyum, mengimbangi senyum sang wanita di depannya.
“Apakah kamu benar-benar menyukai suamiku???”
Bingung Diandra dibuatnya. Tapi sudah terlanjur, maka ia anggukan kepalanya.
“Apa yang kau inginkan darinya?? Uang?? Jabatan?” Tanya sang wanita
“TIDAK” Dengan tegas Diandra menjawab.
“Apa yang kau mau? “
“Aku hanya ingin, suamimu untukku…”
Senyum sang wanita hilang. Berganti dengan tatapan marah. Tapi ia coba menahan. Ia bangkit dari duduknya.
“Baiklah. Lain kali kita bicara lagi. Hari ini aku terburu-buru mau ke suatu tempat. Aku harus segera pergi”
Wanita itu pergi dengan meninggalkan amplop di meja, juga meninggalkan Diandra yang terpaku di tempat.
***
Tiga hari telah berlalu semenjak pertemuan dengan wanita itu. Amplop itu sama sekali belum ia buka.Tergeletak di meja kamarnya.
“Paling-paling isinya cek. Bukankah memang begitu istri-istri bos yang kehilangan suaminya. Tidak di sinteron, di drama Korea, ataupun di dunia nyata. Yang dia lakukan adalah menukarnya dengan puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Apakah ia pikir aku wanita serendah itu? Aku mencintai suaminya, bukan uangnya”. Diandra gemas membatin.


Beberapa kali ia bolak balik bak setrikaan. Menimbang - nimbang antara mau membuka atau membiarkanya saja. Rasa penasaran rupanya mengalahkan segalanya. Ia ambil amplop tersebut dan dibuka pelan-pelan di samping tempat tidur. Bukan cek. Hanya selembar kertas. Dengan tulisan tangan di sana.
Diandra. Maaf jika akhir-akhir ini aku seperti menerormu. Mengirimkan sms kepadamu hampir setiap hari. Memohon bertemu denganmu meski hanya satu kali. Aku tau kamu sangat terganggu. Aku tau, saat bertemupun aku tak sanggup mengatakan apapun,  untuk itu aku hanya menyiapkan secarik kertas ini.


Aku tidak tau kamu wanita seperti apa. Sebab aku tulis ini sebelum aku bertemu denganmu.
Kamu bisa membayangkan Diandra? Bagaimana saat kamu tau suamimu ada main di belakang dengan wanita lain??? Sakit. Sangat sakit. Tapi aku mencoba tabah. Selama ini aku coba menerima semuanya. Toh dia juga masih saja baik di depanku.  Aku hanya berharap, kamu wanita baik. Kamu bisa bayangkan saat  orang yang kamu cintai membagi hati? Maaf, aku bukan ingin menuntutmu. Sama sekali tidak Diandra.
Aku tidak menyalahkan siapa - siapa. Mungkin ini sudah menjadi garis hidup. Cinta toh tak bisa dipaksakan. Dan Cinta toh selalu berubah kadarnya. Bisa lebih kuat, bisa juga hilang tanpa bekas.
Satu hal yang ingin beritau padamu, tiga hari lagi aku akan melakukan operasi kanker payudara. Doakan aku semoga berhasil. Tak ada yang aku beri tau perihal penyakitku, termasuk suamiku. Tolong jaga rahasia ini, jangan beri tau siapapun. Aku memang sengaja menjauh darinya, menyembunyikan semuanya, itulah sebabnya di belakang ia mulai mencari kepuasan. Aku memahami itu, meski hatiku sakit.
Apapun yang terjadi. Jangan pernah sakiti dia. Aku seorang istri yang tak mampu memberinya keturunan. Aku bukan istri yang baik. Aku bukan istri yang sempurna. Hari ini aku mau chek up. Doa’kan aku.  Semoga kita bertemu lagi.


Lani.


Air mata Diandra mengalir dengan sendirinya tanpa mampu ia tahan. Tak berapa lama HP nya berdering. Lia memanggil dari seberang sana.
“Di… Istri pak Ravi meninggal baru saja… Kamu udah tau????”
HP di tangan Diandra terlepas dengan sendirinya. Tak ada kekuatan yang mampu menopang. Wanita itu?? Wanita yang tiga hari lalu bertemu denganya?? Meninggal??God… Aku berharap ini mimpi. Dan tolong  segera bangunkan aku. Aku akan kembalikan suaminya untuknya.
Ketika sesal datang…
Ketika semua tinggal cerita…
Ketika kita sadar….
Semua terasa hampa…
Dan kini…
Surga adalah  tempat terbaik


0 comments:

Orang Jepang Naik Haji



“Subarashi! Subarashi!” atau “Luar Biasa!”, adalah kata yang berulangkali diucapkan oleh Omar-san, orang Jepang dalam kloter haji kami. Kalimat itu diucapkannya saat melihat Ka’bah dan melakukan gerakan memutarinya selama tujuh kali (thawaf). Bersama dengan Omar-san, ada 10 orang Jepang lain yang ikut berangkat haji tahun ini dari rombongan jamaah haji embarkasi Jepang.
Bagi Omar-san, yang baru memeluk Islam sekitar 3 tahun lalu, ini adalah kali pertamanya ia naik haji. Ia begitu kagum dan terkesima dengan masifnya jumlah jamaah haji dari berbagai penjuru dunia yang

Omar-san dan Saif-san, orang Jepang yang Naik Haji.jpg

datang pada saat bersamaan dan melakukan ritual haji yang sama. Omar-san, yang tidak mau memberitahukan pada saya nama asli Jepangnya, menganggap ada satu kekuatan besar yang mampu membawa berjuta-juta orang tersebut secara sukarela untuk datang ke tanah suci ini. Hal itulah yang membuatnya terpana di depan Ka’bah.
Berangkat haji bersama orang Jepang adalah hal yang menarik bagi saya. Bagaimana tidak, selama tinggal di Jepang, saya jarang melihat orang Jepang yang beragama Islam (ataupun beragama lainnya, seperti Kristen atau Yahudi). Kebanyakan orang Jepang memang tidak memilih satu agama tertentu. Mereka kebanyakan menganut ajaran Shinto yang lebih bersifat budaya ketimbang sebuah agama.
Di sisi praktis sehari-hari, sebenarnya orang Jepang sudah berperilaku lebih dari orang beragama. Mereka sangat santun, sabar, bersih, tekun, disiplin, dan tertib dalam bermasyarakat. Semua ajaran agama yang menganjurkan kebaikan dan perilaku terpuji telah mereka terapkan tanpa harus memeluk suatu agama tertentu. Hal itu bisa dilihat secara nyata dalam kehidupan masyarakat Jepang. Mereka tertib mengantri, berlalu lintas dengan santun, menjaga fasilitas umum tetap rapi dan bersih, membuang sampah di tempatnya, dan saling membantu dengan tulus.
Kisah-kisah pascatsunami dan bencana gempa bumi pada Maret 2011 lalu menjadi sekian banyak contoh tentang tingginya adab dan perilaku masyarakat Jepang. Di negeri yang beragama sekalipun, saat bencana, perilaku yang muncul kadang tidak agamis (menumpuk barang kebutuhan pokok, menjarah, menaikkan harga semena mena, dan saling merugikan sesama). Hal itu tidak terjadi di Jepang saat bencana tsunami lalu.
Agama, memang datang ke dunia untuk memperbaiki akhlak, atau perilaku manusia. Sayapun bertanya pada Omar-san, apabila akhlak di masyarakat sudah baik, masih perlukah orang Jepang memeluk agama.
Menurutnya, Jepang memang sebuah masyarakat yang tertata baik dan aplikatif dari ajaran agama. Namun pada ujungnya, manusia tetap membutuhkan tambatan hati. Sebuah oase tempat mengadu dalam keadaan sendiri, baik suka maupun duka. Sebuah tautan kala sedang dirundung beragam masalah dan tekanan dunia. Tanpa agama, berbagai pelarian dicari oleh orang Jepang untuk mencari ketenangan hati. Jadi, menurut Omar san, orang Jepang masih memerlukan agama.

Hal itulah yang melatarbelakangi Omar-san untuk memeluk agama. Ia mengatakan bahwa setelah beragama, ia menemukan ketenangan hati dan kedamaian jiwa. Meski demikian, banyak orang yang bertanya padanya, tidakkah sulit menjadi Islam di Jepang.
Permasalahan bagi orang Jepang dalam memeluk Islam bukan pada masalah ideologi, namun lebih pada urusan praktikalitas ritual. Menjalankan ibadah sholat sebanyak lima kali sehari, puasa selama sebulan, dan melaksanakan ibadah haji, adalah aktivitas yang sangat sulit dilakukan dalam lingkungan orang Jepang. Bangsa Jepang adalah pekerja keras. Kalau kita bekerja di perusahaan Jepang misalnya, sulit mendapat dispensasi ijin sholat pada waktunya, apalagi cuti melakukan ibadah haji. Nyaris mustahil untuk dikabulkan. Belum lagi soal pilihan makanan halal yang amat jarang didapatkan di Jepang.
Omar-san dan Istri berjalan menuju pelemparan Jumrah.jpg
Namun berbeda dengan dunia barat yang memiliki prejudice tentang Islam, di Jepang pandangan masyarakat tentang Islam secara umum tidak seburuk di barat. Bagi orang Jepang, agama apa saja dipandang baik, karena ajaran setiap agama adalah mengarah pada kebaikan. Oleh karena itu, Islam lebih gampang diterima banyak orang Jepang.
Omar-san sendiri beruntung. Ia adalah Presiden Direktur (Sachoo) sebuah perusahaan konstruksi yang dimilikinya sendiri. Perusahaannya tergolong besar di daerah Kasugai, Aichi-Ken, di sekitar kota Nagoya. Jadi, ia bisa mengatur masalah praktikalitas ritual agama, termasuk saat ia memutuskan naik haji bersama istrinya, yang juga orang Jepang.
Selain Omar-san, ada dua orang Jepang lainnya yang sering berdiskusi dengan saya saat ibadah haji kemarin. Kebetulan saya tinggal satu tenda dengan mereka, saat di Mina maupun saat wukuf di Arafah. Mereka adalah Saif Takehito dan Muhammad Syarief. Keduanya telah mengganti atau mencampur nama asli Jepangnya dengan nama Islam.
Saif Takehito adalah seorang diplomat Jepang yang bekerja di Kedutaan Besar Jepang di Dubai. Ia jago berbahasa Arab dan ahli membaca Al Qur’an (saya saja sampai minder mendengar ia membaca Qur’an). Sementara Muhammad Syarief adalah seorang wirausaha yang tinggal di Tokyo.
Karakter dan kultur dari orang Jepang yang baik dan santun tersebut, tercermin saat mereka menjalankan ibadah haji. Dalam kondisi apapun, mereka tetap diam dan sabar. Persis saat mereka menghadapi bencana alam bulan Maret lalu.
Tekanan terbesar dari ibadah haji adalah soal kesabaran. Mulai dari kedatangan di Arab, prosesi ibadah, kehidupan sehari-hari, hingga kembali ke Jepang, ujian kesabaran datang silih berganti. Banyak dari kita yang kadang lepas kontrol, lalu marah-marah dan malah beradu mulut dengan jamaah lain. Tapi saya melihat para jamaah haji dari jepang memiliki kesabaran yang tinggi. Padahal mereka dihadapkan pada kondisi yang bertolak belakang dengan keadaan negaranya yang tertib dan teratur.
Suatu malam di Mina, terjadi kekacauan di maktab (kelompok tenda) kami. Saat kembali dari melempar jumrah, tenda rombongan kami dipindahkan pengelola maktab tanpa sepengetahuan kita semua. Akibatnya, barang-barang kami semua tercecer, bahkan ada yang kehilangan peralatan-peralatan personalnya.
Beberapa jamaah haji dari negara lain ada yang marah-marah dan menyalahkan panitia karena tidak menjaga barangnya. Ada yang menuding-nuding panitia, bahkan sampai ingin menuntut ganti rugi. Salah satu jamaah malah hampir beradu mulut dengan saya, karena ia menganggap saya tidak memberi lokasi tempat tidur untuknya. Masya Allah!
Mereka sampai harus ditenangkan oleh kita semua yang ada di tenda, “Sabar haji… Sabar.. Istighfaar.. This is Hajj”. Barulah kemudian mereka mengucapkan istighfar dan meminta maaf pada kita semua karena menimbulkan kekacauan di tenda.

Sementara itu saya melihat Muhammad Syarief kehilangan sleeping bag-nya malam itu. Ia hanya celingak celinguk saat banyak jamaah protes. Tapi ia diam saja tanpa protes dan tidak mengeluh. Padahal kakinya bengkak karena melepuh saat berjalan di Mekah sebelumnya. Ia malah menggelar handuk dan tidur langsung di karpet dalam diam.Simpati jamaah di tenda kami pun diarahkan pada dirinya. Kamipun meminjamkannya sleeping bag, memberinya obat dan makanan, serta menawarkan lokasi tidur yang nyaman. Semua jamaah simpati pada kesantunan orang Jepang ini.


Syarief-san, orang Jepang yg selalu berdzikir, saat di tenda Arafah.jpg


Hal serupa saya perhatikan dari diri Saif Takehito. Suatu malam kita harus menunggu di Arafah hingga menjelang tengah malam. Saat itu ada kecelakaan bis sehingga semua jalan menuju Muzdalifah ditutup. Akibatnya, bis rombongan kita tertunda keberangkatannya ke Muzdalifah. Banyak jamaah di kelompok kami yang beradu mulut dan berdebat. Mereka merasa harus tiba di Muzdalifah sebelum tengah malam dan melakukan sholat dua rakaat, sesuai sunah Nabi. Pimpinan rombongan mengatakan bahwa dalam kondisi darurat, sholat bisa dilaksanakan di Arafah. Tapi banyak jamaah yang tidak terima, perdebatan pun terjadi bahkan cenderung memanas.
Saif Takehito saya lihat hanya duduk saja di bawah pohon sambil berulangkali melafazkan nama-nama Allah (berdzikir). Saat saya tanya bagaimana pendapatnya, Saif berkata banyak hal yang terjadi di luar kehendak manusia, kita sebagai manusia tak bisa berbuat apa. Semua kehendak Allah. Jadi janganlah kita saling berbantahan, kita harus bersabar dan ikuti perintah pimpinan kita. Masya Allah, kita semuapun jadi malu oleh ucapan dari orang Jepang yang notabene baru memeluk Islam tersebut.
Meski orang Jepang dihadapkan pada suasana yang jauh berbeda dengan negerinya, mereka ternyata bisa memahami dan tetap bersikap sabar. Mereka tidak mengeluh dan menyalahkan keadaan. Hal tersebut memberi saya sebuah kesadaran, bahwa keber-agama-an bukan semata soal pengetahuan. Akhlak dan perilaku baik, terbentuk bukan saja dari pengetahuan, tapi lebih pada kebiasaaan.
Orang Jepang sejak kecil sudah dibiasakan dan dididik berbuat baik, sabar, dan memerhatikan kepentingan orang lain. Di sekolah, di rumah, di masyarakat, ajaran dan yang dilihat sama. Sementara banyak orang beragama yang hanya diajarkan dan diminta menghafalkan cara berbuat baik dan sabar.
Itulah sebabnya dulu Nabi senantiasa berkata, “Biasakanlah berbuat baik, biasakanlah berbuat baik…” Bukan menghafal perbuatan baik, tapi membiasakan berbuat baik. Tentu tujuannya agar kita menjadi orang baik, yang sebaik-baiknya.

0 comments:

Ajarkan Si Kecil Minta Maaf


SUDAH menjadi sifat dasar manusia, tidak pernah luput dari yang namanya salah. Namun banyak juga manusia yang masih sulit mengakui kesalahan apalagi meminta maaf atas kesalahan yang telah diperbuat.
Sebagai orang tua yang bijak, kebiasaan sulit meminta maaf sebaiknya sedini mungkin harus segera diatasi pada si kecil. Dan bulan suci seperti ini, tentu menjadi momen yang tepat untuk menanamkan sifat-sifat teladan kepada anak.
Mengajarkan hal-hal positif pada si kecil sejak dini, diyakini akan membiasakan mereka untuk meminta maaf bila melakukan suatu kesalahan pada orang lain.
Berikut beberapa cara yang bisa Anda terapkan untuk mengajarkan anak untuk meminta maaf:
1. Berikan contoh langsung
Sebaiknya sebagai orang tua, biasakan sedini mungkin menggunakan kata maaf bila melakukan kesalahan, baik terhadap anak-anak atau orang lain. Kebiasaan yang diterapkan dan dilihat anak-anak ini diharapkan akan menumbuhkan sikap yang sama di diri mereka.
2. Tunjukkan dengan bahasa tubuh
Saat meminta maaf, lakukan kontak mata. Hal ini dilakukan agar anak bisa turut merasakan penyesalan Anda. Bahasa tubuh ini dipercaya efektif digunakan saat berkomunikasi dengan batita yang belum lancar berkomunikasi secara verbal. Permintaan maaf bisa dilakukan dengan memeluk dan menciumnya setelah meminta maaf. Namun ingatkan anak, pelukan dan ciuman permintaan maaf hanya boleh diberikan pada anggota keluarga terdekat, sedang orang lain cukup dengan salaman saja.
3. Gunakan lirik lagu
Anak-anak tentu menyukai film-film bertema Barney atau Teletubbies. Adegan gerak dan lagu dalam film tersebut biasanya berisi kalimat kasih sayang dan berpelukan sebagai permintaan maaf. Lakukan adegan tersebut, dan ia akan mengikuti setiap adegan dan gaya dalam lirik lagu tersebut.
4. Ajarkan nilai empati
Setelah anak melakukan kesalahan, dan berat berkata maaf, ajaklah dia berdiskusi tentang rasa empati. Misalnya, saat ia memukul temannya hingga terluka, tanyakan padanya “menurutmu, apa yang kamu rasakan jika temanmu memukulmu?” Tanyakan hal ini sesering mungkin saat anak melakukan kesalahan, agar ia tahu bahwa perbuatannya salah. Biarkan juga dia mencari jawaban atas pertanyaan Anda, hal ini untuk melatih empatinya.
5. Minta maaf bukan berarti kalah
Mengajarkan sikap berjiwa besar itu memang sulit. Tak hanya pada orang dewasa, lebih-lebih pada anak kecil. Namun sedini mungkin biasakan mereka dengan contoh yang baik, bahwa meminta maaf terlebih dulu tidak selalu berarti kalah. Tapi sebuah perbuatan untuk menghormati kepentingan dan perasaan orang lain.
6. Minta maaf = hubungan pertemanan kembali baik
Saat si anak mengalami masalah dengan temannya, dan dia bersedia meminta maaf, maka sampaikan kepadanya itu sebuah langkah yang baik. Selain masalahnya terselesaikan, hubungan pertemanan itu akan kembali membaik, tanpa rasa kesal maupun dendam.
7.Malas minta maaf =Kehilangan Teman
Bagi seorang anak, teman sangatlah berarti. Ajarkan pada anak untuk selalu menyayangi dan menghargai teman-temannya. Jika si anak malas meminta maaf saat melakukan kesalahan, katakan padanya teman-temannya pasti tidak akan mau main dan berteman dengannya lagi.
8. Berikan apresiasi
Setelah mengucap kata maaf, baiknya berikan anak sebuah apresiasi dalam bentuk pujian. Hal tersebut sebagai langkah yang menguatkan bahwa apa yang dilakukannya sudah benar dan perlu diteladani.

0 comments:

Kisah Manis si Tukang Parkir Peraih Emas



TRIBUNNEWS.COM - ANDAI Mohammad Iqbal tak menuruti anjuran orangtuanya untuk beralih dari olah raga sepak bola ke gulat, mungkin nasibnya akan berbeda. Lima tahun lalu, pada 2006, ayahnya menitipkannya pada Suryadi Gunawan, pelatih gulat Samarinda, untuk dibina. Keputusan yang sungguh tepat.
Anak muda ini memang punya talenta luar biasa. Terbukti, lima tahun kemudian ia meraih emas di SEA Games pertamanya.

Muhammad Iqbal meraih emas di kelas 50 kilogram gaya bebas putra setelah mengalahkan pegulat Thailand, Kritsada Benmart, di Jakabaring, Palembang (16/11). Emas yang terbilang mengejutkan karena pegulat 20 tahun ini tak ditarget menjadi juara.
Iqbal pun mempersembahkan medali emas tersebut untuk orang-tuanya, sang bapak Nyompa, dan sang ibu, Tanwir. Ia berjanji, bonus dari emas itu digunakan untuk membeli rumah bagi orang-tuanya. "Mudah-mudahan duitnya cukup untuk membeli rumah, untuk kedua orang tua saya," kata Iqbal.
Ia berkisah, kehidupannya sejak kecil memang terbilang tak mampu. Putra kedua dari empat bersaudara ini kerap harus membantu perekonomian keluarga dengan melakukan apa saja. Mulai dari jadi tukang parkir, sampai jual lukisan.
Iqbal tak pernah malu melakukan apa saja untuk mendapatkan uang, sepanjang itu halal. "Setiap Minggu pagi saya selalu menjaga parkir kendaraan di Kantor Pemkot Samarinda karena kawasan itu menjadi tempat orang untuk berolahraga ringan seperti jalan dan jogging," tutur M. Iqbal seperti dikutip dari Antara.
"Terkadang saya juga ikut kerja nyuci motor, atau berjualan lukisan dan baju kaus di depan halaman KONI, pada bulan puasa atau pas ada keramaian lainnya, yang terpenting bisa mendapatkan duit halal," papar pria kelahiran 11 Oktober 1991 di kota Samarinda itu.
Semua upaya itu terpaksa dilakukan oleh M Iqbal, demi membantu orangtuanya yang dengan susah payah menghidupi dan menyekolahkan dia dan saudaranya, hingga dia saat ini bisa mengenyam bangku kuliah.
"Saya bersyukur masih bisa kuliah, sekarang saya semester empat di jurusan Hukum Universitas, Mulawarman Samarinda, memang satu tahun ini saya ijin karena ikut persiapan SEA Games, namun seusai SEA Games insya Allah saya akan teruskan kuliah lagi sampai selesai," kata Iqbal.
Sebagai atlet yang tidak diunggulkan mendapatkan emas, Iqbal mengaku sangat bersyukur dan bangga bisa mengibarkan bendera merah putih pada debut pertamanya di ajang SEA Games tersebut.
"Selain untuk Bangsa dan Negara, medali ini juga saya persembahkan untuk kedua orang tua, semua pelatih dan teman-teman saya yang selalu memberikan motivasi dan doa, sehingga saya bisa berhasil seperti sekarang ini," tutur M Iqbal. (Tribunnews)

0 comments:

Iva Tewas Lindungi Bayinya Dari Kobaran Api


TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA - 
Usia Nia Rahmatullailiyah baru dua bulan, namun ia harus menerima kenyataan pahit ditinggal ibunya, Iva Kurniawati (25) untuk selama-lamanya.
Nia merupakan bayi yang selamat dari kobaran api di Jl Raya Lontar 60, Selasa (15/11/2011) lalu. Saat itu, Nia didekap ibunya, Iva Kurniawati dan neneknya, Uripah di dalam kamar mandi hingga api berhenti berkobar. Beberapa saat setelah api padam, nyawa Iva akhirnya tak dapat diselamatkan.
Sulimah, wanita yang kini merawat Nia mengatakan kondisi Iva lemah sebelum kebakaran ini. Bahkan Iva juga pernah mengalami sesak nafas. “Waktu di rumah sakit dia (Iva) gak muntah-muntah,” katanya.
Apa yang dialami Nia, rupanya berbeda dengan yang terjadi dengan Hadi Kurniawan (26), ayahnya. Kini, Hadi terlihat seperti orang bingung. Tatapan mata Kurniawan kosong dan sering melihat ke arah bawah. “Saya tidak tahu, saya sudah lupa dengan apa yang terjadi kemarin,” kata Hadi Kurniawan lirih.
Sementara itu, adik Kurniawan, Akhmad Choirudin mengatakan akibat kebakaran itu seluruh barang dan bajunya ludes terbakar. Bahkan foto Iva dan keluarganya, juga tak ditemukan. “Semuanya habis. Saya gak tahu kalau di kamera handphone kakak saya ada,” kata Akhmad.
Meski begitu rasa sedih siswa kelas II Instalansi Tenaga Listrik, SMK II Surabaya ini sedikit terhibur. Perwakilan dari tempat sekolah Choirudin datang mengunjunginya. Saat itu mereka memberi Choirudin baju dan keperluan sekolah.
Terpisah, Kapolsek Lakasantri Kompol Kuncoro menjelaskan hingga saat ini baru empat warga yang sudah diperiksa terkait kebakaran itu. Sedangkan, saksi dari korban belum diperiksa. “Mereka masih dalam kondisi berduka,” kata Kuncoro di Mapolsek Lakasantri.

0 comments:

Mengapa Perempuan Modern Inggris Memilih Islam?



TEMPO Interaktif, Ipar tiri Tony Blair, Lauren Booth, ternyata tak sendirian memilih Islam sebagai agama barunya usai melawat ke kota suci Qom, Iran. Pilihan iman jurnalis dan penyiar televisi Iran itu rupanya juga diikuti sejumlah perempuan modern Inggris lainnya.



Eve Ahmed, perempuan yang berkarir sebagai penulis termasuk di antaranya. Eve dilahirkan di London, ibunya orang Inggris sementara ayahnya Muslim asal Pakistan. Sedari kecil, ia tumbuh sesuai dengan iman ayahnya. Namun sesungguhnya dia tak bisa terima. "Ketika berusia 18 tahun dan kuliah, saya menolaknya."


Islam, sejauh ini, selalu ditolak Eve. Menurut pengakuannya, banyak hal yang remeh temeh dilarang oleh Islam. Misalnya, tak boleh mengunyah permen karet, mengendarai sepeda, berhias, mempertontonkan lekuk tubuh, tak boleh makan di jalan, memotong rambut atau mengecat kukuh. 
Semua larangan itu tak pernah dijelaskan oleh ayah Eve, termasuk mengapa tak boleh memelihara anjing. Dan, tentu saja, duduk bersama pria, bersalaman, serta berhubungan badan dengan seorang pria yang bukan muhrimnya.
Nilai-nilai Islam semacam itu dipaksakan ayahnya agar bisa mejadi seorang Muslimah yang baik. Sebagai perempuan merdeka yang dibesarkan di Inggris, sikap ayahnya ditolak keras. Dia memilih layaknya perempuan modern. Namun, kini nilai-nilai Islam yang diajarkan ayahnya dinikmati di tengah kehidupan modern Inggris.

Selain Eve, ada Lauren Booth, 43 tahun. Jurnalis dan penyiar televisi itu setelah menjadi Mualaf kini mengenakan jilbab setiap keluar rumah, salat lima kali sehari dan berjamaah di Masjid setempat, "Jika ada kesempatan."

Booth memutuskan menjadi Muslimah enam pekan lalu usai melawat ke tempat suci Fatima al-Masumeh di kota Qom seraya berkata "Pada Selasa petang, saya duduk bersila di bawah seperti mendapatkan suntikan rokhani, sebuah kebahagiaan tak terhingga."

Sebelum bekerja di Iran, dia simpati dengan Islam dan menghabiskan waktunya bekerja di Palestina. "Saya senantiasa terkesan dengan kekuatan dan Islam memberikan sesuatu," ujarnya.

Kristane Backer, 43 tahun, adalah mantan presenter MTV di London. Sejak belia, pilihan hidupnya adalah menjadi perempuan bebas, bergaya hidup Barat, modern, dan liberal. Namun, apa alasannya memilih Islam?

Perkenalannya terhadap Islam bermula saat bertemu dengan bekas pemain criket Pakistan, Muslim Imran Khan, pada 1992, di kala kariernya meroket, selanjutnya pria itu mengajaknya ke Pakistan. Dari sinilah dia mulai tersentuh dengan nilai-nilai spiritual yang tak pernah dikenyam dan terkesan dengan kehangatan masyarakat.

Kristiane katakan, "Sejak itu saya mulai belajar Islam dan pindah agama. Sebabnya alami. Saya telah wawancara dengan sejumlah bintang-bintang Rock, melakukan perjalanan ke seluruh dunia namun demikian saya merasa kosong. Kini, semua telah berlalu. Saya menikmati kebahagiaan sebab Islam telah memberikan tujuan hidupku."

"Di Barat, kami hidup dengan alasan-alasan dangkal seperti soal pakaian. Di Islam, setiap orang nampak memiliki tujuan yang agung. Setiap hal dilakukan atas nama Allah.

"Saya tumbuh di Jerman dalam sebuah keluarga Protestan yang tidak religius. Saya mabuk dan suka pesta. Kini saya memiliki tujuan hidup yang baik. Kami bertanggungjawab atas seluruh perbuatan."

Lyne Ali, 31 tahun. Perempuan asal Dagenham, Essex, pertama kali bersentuhan dengan Islam melalui sahabatnya beragama Islam. Dia mengaku selama ini merupakan tipikal perempuan yang suka pesta.

"Saya suka mabuk bersama teman-teman, mengenakan pakaian ketat, menanggalkan baju, dan kencan dengan lelaki," ujar Lyne. "Saya juga bekerja paruh waktu sebagai DJ. Saya dulu berdoa layaknya seorang Kristen, namun saya menggunakan Tuhan sebagai dokter sementara."

Namun ketika bertemu dengan sahabatnya, Zahid, di universitas atau kadang-kadang dalam suasana dramatis. Lalu, "Saudara perempuannya berbicara tentang Islam, dan hal tersebut merasuk dalam kalbuku. Saya pikir, saya harus mencari sesuatu dan saya merasa kebiasaan saya mabuk dan berpesta tak ada gunanya."

Lynne pindah agama pada usia 19 tahun. "Saat itu juga saya mengenakan jilbab," jelasnya. Sekarang, "saya tak pernah lagi mempertontonkan rambut saya di depan publik. Di rumah, saya akan mengenakan pakaian Barat hanya untuk suami, tapi kalau keluar tak pernah."

Camilla Leyland, 32 tahun. Guru yoga ini tinggal di Cornwall memilih Islam sebagai agama baru. Ibu dari anak tunggal, Inaya, memeluk Islam di tengah maraknya diskusi soal "feminisme" di Barat.

Tumbuh besar di Southampton, ayahnya seorang direktur Institut Pendidikan Shoutampton dan ibunya guru ekonomi. Camilla tertarik pada Islam sejak di bangku sekolah.

Dia melanjutkan pendidikan di universitas dan mengambil gelar master bidang Kajian Timur Tengah. Selanjutnya bekerja di Syria. Mengenal Islam melalui teman-temannya.

0 comments:

6 Sifat Perempuan Yang Tak Bisa Dijadikan Istri

1. Al -Anaanah: 
banyak keluh kesah. Yg selalu merasa tak cukup, apa yg diberi semua tak cukup. diberi rumah tak cukup, diberi motor tak cukup, diberi mobil tak cukup, dll. Tak redha dg pembelaan dan aturan yg diberi suami. Asyik ingin memenuhi kehendak nafsu dia saja, tanpa memperhatikan perasaan suami, tak hormat kepada suami apalagi berterima kasih pada suami. Bukannya hendak menolong suami, apa yg suami beri pun tak pernah puas. Ada saja yg tak cukup.

2. Al-Manaanah: 
suka mengungkit. Kalau suami melakukan hal yg dia tak berkenan maka diungkitlah segala hal tentang suaminya itu. sangat senang hendak membicarakan suami: tak ingat budi, tak bertanggungjawab, tak sayang dan macam-macam. Padahal suami sudah memberi perlindungan macam-macam padanya.

3. Al -Hunaanah:
ingin pada suami yg lain atau berkenan kpd lelaki yg lain. sangat suka membanding-bandingkan suaminya dgn suami/lelaki lain. Tak redha dg suami yg ada.

4. Al- Hudaaqah:
suka memaksa. Bila hendak sesuatu maka dipaksa suaminya melakukan. Pagi, petang malam asyik menekan dan memaksa suami. Ada kalanya dgn berbagai ancaman: ingin lari, ingin bunuh diri, ingin membuat malu suami, dll. Suami dibuat seperti budaknya, bukan sebagai pemimpinnya. Yg dipentingkan adalah kehendak dan kepentingan dia saja.

5. Al -Hulaaqah:
sibuk bersolek atau tidur atau santai-santai dll hingga lalai dgn  ibadah-ibadah asas, seperti sholat berjemaah, wirid,zikir, mengurus rumah-tangga, berkasih sayang dgn  anak-anak, dll.

6. As-Salaaqah:
banyak berbicara, menggosip. Siang malam, pagi petang asik menggosip terus. Apa saja yg suami kerjakan selalu tidak benar dimatanya. Zaman sekarang ni bergosip bukan saja berbicara di depan suami, tapi dg telfon, SMS, internet, BBM dan macam2 cara yang lain . Yg jelas isteri tu asyik menyusahkan suami dgn kata-katanya yg menyakitkan.

0 comments:

Kisah Seorang Guru Jadi Pelacur Demi Anak Didiknya


Tinggal di desa kecil di propinsi Gan Shu. Awalnya dia bukan pelacur. Setiap penduduk di desa tersebut tidak mengerti kenapa seorang gadis secantik Xia yang mempunya paras tubuh yang indah dan rupa yang menawan tidak melakukan seperti gadis-gadis lainnya.

Karena Xia menolak akan hal ini, ayah nya Xia selalu menghukum dia.Suatu hari Xia mendengar bahwa sebuah sekolah di desa membutuhkan jasa seorang guru Xia langsung dengan sukarela menjadi seorang guru dengan tanpa imbalan. 

Pas hari pertama Xia masuk ke sekolah menjadi seorang guru, setiap murid kaget dan terpukau akan kecantikan guru baru mereka Sejak saat itu Kelas selalu menjadi penuh dengan canda tawa setiap murid. Kelas mereka lebih layak untuk di sebut sebagai tempat penampungan daripada bangku bangku sekolah yang normal. Dalam kondisi kelas yang sekarat ini, Xia mengajarkan beribu ribu kata kata chinese dan pengetahuan laennya kepada murid murid nya Suatu hari badai besar menghancurkan kelas mereka semua murid tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Lalu kepala sekolah datang ke kota untuk merundingkan hal tersebut dengan walikota yang mengurus budget bagian pendidikan agar memberikan sumbangan uang utk membetulkan sekolah mereka akan kepala sekolah kembali dengan tangan kosong. 

Kepala sekolah mengatakan kepada Xia bahwa walikota akan memberikan uang kalo hanya Xia yang datang kepada dia dan meminta uang kepadanya secara personal, Xia yang tidak pernah keluar dari desa dan meninggalkan rumah nya dan tidak pernah bertemu dengan walikota sebelumnya, telah memutuskan untuk berangkat dari rumah untuk mengunjungi sang walikota. Sebelumnya Xia kwatir kalo kunjungan dia akan mengacaukan suasana, akan tetapi dia tetep memutuskan pergi demi murid murid nya. 

Xia berjalan lebih dari 10 kilo untuk ke kantor sang walikota setelah sampai, Xia duduk di depan kantor yang bagus di ruangan sang walikota. Setiba nya di kantor, sang walikota menyambut kedatangan Xia dengan sepasang mata pemburu yang haus akan Xia dan mununjukan tangannya ke sebuah ruangan dan mengatakan “Uang kamu ada di kamar tersebut… kalau kamu mau, kamu ikuti aku” Xia melihat sebuah ruangan dengan ranjang yang besar, ranjang tersebut lah yang telah merenggut keperawanan Xia, Sang walikota telah memperkosa Xia. Darah segar dari keperawannan nya telah meninggalkan bekas dan jejak di sprei darah merah tersebut menjadi lebih merah daripada warna bendera national China. Xia tidak menangis sedikit pun yang ada di pikiran nya adalah berpuluh puluh mata murid murid nya yang akan kecewa kalo tidak ada kelas buat mereka belajar. 

Setelah itu Xia bergegas balik ke rumah yang gelap dan tidak memberi tahu kepada seorang pun tentang kejadian tersebut. Hari berikutnya, para penduduk membeli kayu dan membetulkan kondisi kelas. Akan tetapi kala ada hujan yang deras, kelas tersebut tetap tidak bisa di gunakan. Xia mengatakan kepada murid muridnya bahwa walikota akan membangun sebuah sekolah yang bagus buat mereka. Dalam kurang lebih 6 bulan, kepala sekolah mengunjungi walikota 10x akan tetapi tetep tidak diberikan dana yang dijanjikan kepada mereka. Hanya walikota lah yang tau apa yang telah terjadi pada Xia akan tetapi tidak bisa berbuat banyak tentang itu. 

Pada saat semester baru berganti, banyak murid yang tidak bisa melanjutkan sekolah nya karena biaya dan mereka harus membantu orang tua nya untuk bekerja… Jumlah murid nya berkurang dan bekurang. Xia sangat sedih akan kondisi seperti itu. Ketika Xia mengetahui bahwa harapan murid muridnya telah hilang bagaikan asap. Dia lalu kembali ke kamarnya. Xia membuka bajunya, dan melihat tubuh telanjangnya di depan cermin. Xia bersumpah akan memakai tubuhnya yang indah untuk mewujudkan impian dari murid muridnya untuk bisa kembali sekolah… Xia tau semua gadis dari desa bekerja sebagai pelacur di kota untuk mencari uang dan itu cara yang gampang untuk dia untuk mendapatkan uang. Dia membersihkan dirinya dan mengucapakan selamat tingal kepada kepala sekolah, ayah dan sekolah… 

Dia mengikat rambut nya dengan kuncir dua dan berjalan menuju kota. Ketika dia berangkat ke kota, ayahnya tersenyum bangga akan tetapi kepala sekolah menangis sedih akan pilihan yang Xia lakukan….Di dalam glamor kehidupan kota, Xia tidak senang sama sekali dia menderita, dalam benak pikirannya, hanya ada sebuah kelas yang hancur dan keprihatian dan kesedihan dan kekecewaan expressi dari murid muridnya…. Xia masuk ke buat salon, berbaring di ranjang yang kotor dan menderita kerja kotor yang kedua di dunia percabulan… Malam itu di dalam diary nya Xia menulis “Sang walikota tidak bisa di bandingakan dengan tamu pertama nya lebih parah dan lebih kejam akan tetapi paling tidak tamu nya telah membayar dan memberi uang” 

Xia mengirimkan semua uang penghasilannya kepada kepala sekolah dengan mengirit irit biaya untuk hidup nya dengan harapan bisa mengirim lebih banyak lagi ke kepala sekolah. Sang kepala sekolah menerima uang tersebut dan mengikuti untuk menggunakan uang utk membangun sekolah… Ketika setiap orang yang menanyakan sumber uang tersebut, sang kepala sekolah hanya menjawab bahwa di dapat dari donasi dari organisasi social. Akan tetapi seiring waktu, penduduk mengetahui bahwa sumber dana dari seorang mantan guru yang bernama Xia. Banyak reporters yang ingin meliputi berita ini akan tetapi di tolak oleh Xia dengan alasan bahwa dia hanya seorang pelacur biasa.Dengan uang tersebut, sekolah telah berubah drastis…Bulan pertama, ada papan tulis baru…Bulan ke dua, ada bangku kayu dan bangku…Bulan ke tiga, setiap murid mempunyai buku masing masing. Bulan ke empat, setiap murid mempunya dasi masing masing. Bulan ke lima, tidak ada seorang murid pun yang datang ke sekolah tanpa alas kaki. 

Bulan ke enam, Xia kembali mengunjungi sekolah Xia disambut dengan gembira dan para murid menyapa”Guru, kamu telah kembali guru, kamu cantik sekali”Melihat kegembiraan dari para murid muridnya, Xia tidak berkuasa untuk menangis,Tidak peduli berapa banyak air mata yang di teteskan nya dan berapa banyak derita, keluh kesan dan kisah sedih yang dia lalui dalam 6 bulan, Xia merasakan semua kisah sedih dan penderitannya itu sangat seimbang dan pantas untuk harga yang dia bayar untuk melihat apa yang Xia lihat saat itu. Setelah beberapa hari di rumah, Xia kembali ke kota. Pada bulan ke tujuh, sekolah telah mempunyai lapangan bermain yang baru. Pada bulan ke delapan, sekolah membangun lapangan basket…pada bulan ke sembilan, setiap murid mempunya pensil yang baru. Pada bulan ke 10, sekolah mempunya bendera nasional sendiri, setiap murid bisa menaikan bendera setiap hari nya. 

Hingga suatu waktu Xia dikenalkan kepada seorang businessman. Sang pengusaha luar asing bersedia membayar 3000 rmb buat satu malam. Dengan pikiran yang lelah yang telah dia lalui bbrp tahun lalu, Xia dengan lelah menuju hotel sang pengusaha asing. Dia bersumpah bahwa itu adalah pekerjaan kotor yang terakhir bagi dia dan setelah itu dia akan kembali ke desa dan bersama sama murid muridnya di sekolah. Akan tetapi nasib berkata lain sungguh tragis telah terjadi malam itu dimana Xia bersumpah untuk terakhir kali nya, Xia di diperkosa dan di siksa hingga terbunuh oleh 3 pengusaha asing tersebut. Xia baru saja bertambah umur nya menjadi umur 21 tahun. Xia saat itu juga meninggal tanpa mencapai keinginan yang terakhir, yaitu untuk membangun satu kelas bagus dengan 2 komputer yang bisa digunakan oleh murid murid. 

Seorang pelacur telah meninggal dunia… keheningan yang di penuhi air mata. Saat itu langit kota ShenZen masih berwarna biru seperti lautan. Para murid2, guru2 dan beberapa ratus penduduk menghadiri acara pemakaman Xia di desa kecil bernama “GanShu” Pada saat itu, semua hanya bisa melihat foto hitam putih dari Xia dalam foto itu Xia mengikat rambut nya 2 dengan senyuman bahagia… Kepala sekolah membuka diary Xia dan membacakanya di depan para murid murid nya dan Xia menulis “Sekali melacur, bisa membantu satu anak yang tidak bisa sekolah. Sekali menjadi wanita simpanan, bisa membangun sebuah sekolah yang telah hilang harapan. Bendera setengah tiang dikibarkan. 

0 comments:

Kisah Wortel, Telur, Dan Kopi


Cerita Cerita Inspiratif Dan Motivasi 
Seorang anak perempuan mengomel kepada ayahnya tentang kehidupannya dan bagaimana keadaan sungguh sangat berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana ia menanganinya dan ia ingin menyerah. Ia lelah untuk terus bertarung dan berjuang. Sepertinya ketika satu masalah diselesaikan timbul masalah lain.


Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur, lalu mengisi 3 panci dengan air dan meletakkannya di api. Tak lama, air di ketiga panci itu mulai mendidih.
Di satu panci ia meletakkan wortel, di panci lain ia meletakkan telur, dan di panci terakhir ia meletakkan biji-biji kopi. Ia membiarkannya mendidih, tanpa berkata sepatah kata apapun.
Anak perempuannya dengan tidak sabar bertanya-tanya dalam dirinya apa yang ayahnya lakukan. Ia memiliki masalah, dan ayahnya membuat ramuan aneh. Setengah jam kemudian, sang ayah berjalan ke kompor dan mematikan apinya. Ia mengambil wortel dan telur lalu meletakkannya di piring. Kemudian mengambil kopi dari panci terakhir dan meletakkannya di gelas.
Sang ayah bertanya, "Sayang apa yang kamu lihat,"


Dengan cepat, ia menjawab, "Wortel, telur, dan kopi."


Sang ayah membawanya lebih dekat dan memintanya untuk meraba wortel. Ia melakukannya dan merasakan wortel itu sudah lunak. Sang ayah lalu menyuruhnya mengambil telur yang sudah direbus itu dan memecahkannya. Setelah membuka cangkang telur, ia mengamati isinya yang padat. Akhirnya, sang ayah menyuruhnya untuk meminum sedikit kopinya. Wajahnya berkerut merasakan kekuatan rasa kopi itu.


Ia bertanya, "Apa maksud dari ini semua ayah?"


Sang ayah menjelaskan, "Setiap benda ini mengalami hal yang sama, 100 derajat air panas. Tetapi setiap benda bereaksi secara berbeda."


"Wortel pada mulanya masuk dengan keadaan kuat dan keras. Tetapi setelah melalui air mendidih, ia menjadi lunak dan lemah."


"Telur sangatlah rapuh. Cangkang luar yang tipis melindungi cairan di dalamnya. Tetapi setelah berada dalam air mendidih, dalamnya menjadi mengeras."


"Akan tetapi biji kopi adalah unik. Setelah mereka berada di air mendidih, ia menjadi semakin kuat dan kaya rasa dan baunya." "Yang mana dirimu?" Sang ayah bertanya pada anak perempuannya.


Ketika kesulitan mengetuk pintumu, bagaimana kamu menanggapinya?


Apakah kamu adalah wortel, telur, atau biji kopi?


Apakah kamu wortel yang terlihat kuat, tetapi dengan sedikit rasa sakit, kesulitan, panas kamu menjadi lesu dan lunak tanpa kekuatan?


Apakah kamu telur, yang awalnya memiliki hati yang lunak dan semangat yang terus mengalir seperti cairan? Tetapi setelah sebuah kematian orang terdekatmu, sebuah perpisahan, sebuah perceraian, sebuah PHK kamu menjadi keras dan kaku. Cangkangmu terlihat sama, namun kamu hati dan jiwamu berubah menjadi sangat keras dan kaku.


Atau kamu seperti biji kopi? Biji kopi tidak mendapatkan rasa dan aroma yang kuat sampai ia dipanaskan dalam air mendidih 100 derajat. Ketika keadaan semakin buruk, kamu justru semakin baik. Ketika hari-hari semakin kelam, ujian-ujian semakin berat, jiwamu justru naik ke level selanjutnya.


Bagaimana kamu menangani kesulitan? Apakah kamu wortel, telur, atau biji kopi?

0 comments: