TELAH BERPULANG IBUNDA TERCINTA

Marwijah Binti Moehammad Sanim
(5 Mei 1926 - 12 Februari 2011)


Innalilahi Wa Inna Ilaihi Rojiun
Telah berpulang ke Rahmatullah,
Ibunda, Mertua, Bulek, Bude, dan Eyang kami tercinta:
Marwijah Binti Moehammad Sanim
Tepat jam 2:00 WIB dinihari Sabtu, 12 Februari 2011, di RS-RKZ Surabaya.

Allahu Yarhamah dimakamkan jam 14:00 WIB pada hari yang sama
di Taman Pemakaman Pasarehan Kiyai Ageng Selo,
Wiyung Berantas, Surabaya.

Kami mohon doa,
Semoga arwah beliau mendapat ampunan dari Allah
Yang Maha Rahman dan Maha Rahim,
serta mendapat tempat yang mulia di sisi-Nya.

Segenap keluarga yang ditinggalkan dengan ini mengucapkan
terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak
atas segala budi baik yang telah diberikan kepada beliau,
baik semasa hidupnya, pada hari beliau tutup usia,
maupun pada hari-hari setelah kepergiannya.

Dengan segala kerendahan hati,
melalui kesempatan ini pula kami, putra-putri beliau,
mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada semua pihak
bila ada hal-hal yang dirasa tidak pada tempatnya
baik semasa hidupnya, maupun sampai pada hari beliau tutup usia.

Semoga segala bentuk kebaikan yang telah diberikan kepada beliau
oleh semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan
namanya satu demi satu di sini

akan mendapat ganjaran berlipat ganda dari Allah Subhanahu Wata'ala.
Amin, Ya, Ghofur ur Rahim.


Atas nama putra-putri, menantu, cucu, dan cicit beliau;
Nonki

0 comments:

TAHLILAN DAN TA'ZIYAH MENURUT ISLAM

Sudah menjadi tradisi di kalangan Umat Islam Indonesia, bila seseorang muslim wafat, maka keluarga yang ditinggalkan akan menyelenggarakan tahlilan yang biasanya dihadiri oleh para kerabat, keluarga, tetangga dan handai taulan.

Setelah tahlil, biasanya acara dilanjutkan dengan ta'ziah. Dalam ta’ziah ini, biasanya pula seringkali diisi dengan ceramah agama. Tujuannya, di samping untuk menghibur keluarga yang sedang berduka, sekaligus juga untuk menyampaikan da'wah atau siraman rohani bagi yang hadir dalam majelis ta’ziah tersebut.

Namun karena dalam prakteknya ada dua pendapat besar yang saling berselisih mengenai tahlilan dan ta'ziah ini, maka kemudian muncullah permasalahan. Bagaimanakah sesungguhnya syariat Islam menyikapi tahlilan dan ta’ziah? Di manakah letak perbedaan yang selama ini diperselisihkan itu?

Semoga uraian berikut dapat menambah tsaqafah (wawasan) kita dalam menyikapi pertentangan ini, dan di atas semua itu, semoga pula pelajaran yang dapat dipetik darinya semakin menguatkan pemahaman kita tentang ajaran Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam tentang Islam untuk kemudian menjadi cermin perilaku sehari-hari kita selaku umat muslim. Amin!

  • TAHLILAN
Pengertian Tahlil
Dari sisi etimologi, kata tahlil memiliki arti mengucapkan laailaahaillallah. Dalam hadits dijelaskan, bahwa Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam bersabda, "Perbaharuilah imanmu! Seorang sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana cara memperbaharui iman? Beliau menjawab, "Perbanyaklah tahlil!"

Merujuk pada hadits ini, maka tahlil mengandung pengertian; mengucapkan kalimat laailahaillallah (tiada Ilah selain Allah). Demikian disebutkan dalam kamus kontemporer. Kata tahlil termasuk dalam beberapa kata yang telah dibakukan untuk satu ucapan tertentu. Kata tahlil serumpun dengan kata Tahmid; mengucapkan alhamdulillah, tasbih; subhanallah, hamdalah; alhamdulillahi rabbil ‘alamin, dan sebagainya.

Dalam perkembangan selanjutnya, istilah tahlilan kemudian lebih dipahami di lingkungan masyarakat Indonesia sebagai bagian dari ritual dzikir, khususnya ketika ada seorang muslim yang meninggal dunia. Persoalan selanjutnya adalah munculnya perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang apakah Islam memperbolehkan tahlilan atau tidak?

  • PENDAPAT ULAMA MENGENAI TAHLILAN
Pada hakikatnya permasalahan tahlilan merupakan salahsatu ritual agama yang masih diperdebatkan oleh ulama sejak dulu hingga saat ini. Adapun titik krusial yang menjadi inti perbedaan tersebut terletak pada pertanyaan berikut:

  1. Apakah doa, bacaan istighfar untuk mayit, dan bacaan Al-Quran dari orang hidup yang pahalanya dihadiahkan kepada orang yang sudah meninggal dapat memberi manfaat bagi si mayit atau tidak?
  2. Apakah tahlilan - dalam bentuk yang kita kenal selama ini - disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya?
Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah membagi bentuk amal perbuatan manusia menjadi dua bagian. Pertama, amal badaniyyah. Yaitu, amal yang dipraktekkan langsung oleh fisik manusia, seperti shalat, puasa dan dzikir. Kedua, amal maliyyah. Yaitu, amal dalam bentuk materi dan harta, seperti sedekah dan infaq.

Berangkat dari dua pendapat Imam Ibnul Qayyim di atas, para ulama pun kemudian berbeda pendapat tentang tahlilan sebagaimana tersebut di bawah ini:

  • PENDAPAT PERTAMA
Ritual tahlil bukan termasuk sesuatu yang dianjurkan agama, dan memohonkan ampun serta menghadiahkan pahala kepada orang yang telah mati tidak berpengaruh sedikit pun bagi sang mayit. Pendapat ini berdasarkan pada beberapa dalil seperti berikut:

Firman Allah Subhanahu Wata'ala:

أَلاَّ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى * وَأَنْ لَيْسَ لِلإِنْسَانِ إِلاَّ مَا سَعَى
"Bahwasannya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan seorang manusia tidak akan memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." (QS. An-Najm[53]: 38-39)

فَالْيَوْمَ لا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئاً وَلا تُجْزَوْنَ إِلاَّ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
"Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun, dan kamu tidak dibalasi kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan." (QS. Yaasiin[36]:54)

لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ
"Ia mendapat pahala (dari kebaikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya." (QS. Al-Baqarah[2]: 286)

Tiga ayat di atas merupakan kalimullah, bahwa orang yang telah mati tidak berkesempatan lagi memperoleh tambahan pahala yang dapat menyelematkannya dari siksa kubur di akhirat, kecuali yang disebutkan oleh Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam dalam hadits riwayat Imam Muslim:

  • "Apabila seorang manusia meninggal dunia, maka putuslah amalnya, kecuali tiga hal: (1) sedekah jariyah, (2) Doa anak shalih, (3) Ilmu yang bermanfaat sesudahnya."
  • "Barangsiapa mengerjakan suatu perbuatan yang tidak kami perintahkan, maka (perbuatan) itu tidak diterima."

Hadits pertama menyebutkan, hanya ada tiga perkara yang akan mendatangkan manfaat bagi si mayit. Dari tiga perkara itu tidak ada satupun yang mengisyaratkan adanya tahlil, atau membolehkan tahlilan.

Hadits kedua lebih tegas lagi, bahwa segala perbuatan yang tidak dicontohkan Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam adalah perbuatan bid’ah. Berdasarkan hadits kedua ini, sebagian ulama menyimpulkan bahwa tahlilan bertentangan dengan Syariat karena tidak sesuai dengan enam hal yang mereka sepakati bersama. Keenam hal tersebut adalah: (1) sebab atau illat, (2) jenis, (3) kadar atau bilangan, (4) waktu, (5) tata cara atau kaifiyah, dan (6) tempat.

Karena itu jelaslah bahwa semua pahala amal ibadah manusia yang masih hidup tidak dapat dihadiakan kepada orang yang telah meninggal dunia. Bahkan pahala yang diniatkan untuk dihadiahkan kepada si mayit tidak akan pernah sampai, dan tidak akan memberi manfaat sedikit pun bagi si mayit. Hal ini berlaku untuk seluruh aspek amal kebaikan, baik itu amal badaniyah atau maliyyah, kecuali tiga hal yang mendapat pengecualian sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Muslim di atas.

  • PENDAPAT KEDUA
Antara ibadah badaniyah dan ibadah maliyah harus dibedakan. Pahala ibadah maliyyah seperti sedekah dan infak akan sampai kepada mayit. Sedangkan ibadah badaniyah seperti shalat dan bacaan Al-Quran, tidak ada pengaruhnya bagi sang mayit. Dengan kata lain pahalanya tidak akan sampai kepada mayit. Pendapat ini paling masyhur di kalangan mazhab Syafi’i dan Maliki. Mereka ber-hujjah, bahwa ibadah badaniyah termasuk kategori ibadah yang tidak bisa digantikan oleh orang lain. Sama halnya ketika si mayit sendiri masih hidup, ia tidak akan bisa mewakili kewajiban shalat orang lain yang juga masih hidup. Sebab ibadahnya tidak sah, sebagaimana sabda Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam:

لاَ يُصَلِّي أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ وَلاَ يَصُوْمُ أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ، وَلَكِنْ يُطْعِمُ عَنْهُ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مُدًّا مِنْ حِنْطَةٍ
"Seseorang tidak boleh melakukan shalat untuk menggugurkan kewajiban shalat orang lain, dan tidak pula melakukan puasa untuk menggantikan puasa orang lain, tetapi hendaklah ia memberi makan untuk satu hari sebanyak satu mug gandum."

  • PENDAPAT KETIGA
Doa dan juga ibadah yang diniatkan untuk mayit, baik dalam bentuk maliyah atau pun badaniyah, sangat bermanfaat bagi mayit berdasarkan dalil-dalil berikut:

Pertama: Dalil Al-Quran

Allah Subhanahu Wata'ala berfirman:

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِاْلإِيمَانِ

’’Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa, ’’Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami.’’ (QS. Al-Hasyr[59]:10)

Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wata'ala menyanjung orang beriman, karena mereka memohonkan ampun (istigfar) untuk orang-orang beriman sebelum mereka. Ini menunjukkan, bahwa orang yang telah meninggal mendapat manfaat dari istigfar orang yang masih hidup.

Kedua: Dalil Hadits

Dalam hadits, banyak diajarkan doa-doa yang dibaca untuk jenazah seperti doa yang ditujukan untuk mayit setelah ia dikubur, doa ziarah kubur, dan doa saat menshalati jenazah seperti sabda Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam:

"Auf bin Malik berkata: Saya mendengar Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam setelah selesai shalat jenazah berucap: "Ya Allah, ampunilah dosanya, sayangilah dia, maafkanlah dia, sehatkanlah dia, muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah kuburannya, mandikanlah dia dengan air salju dan air embun, bersihkanlah ia dari segala dosa sebagaimana kain putih bersih dari kotoran, berilah ia tempat tinggal yang lebih baik dari tempat tinggalnya di dunia, beri juga keluarga yang lebih baik dari keluarganya yang di dunia, juga pasangan yang lebih baik dari pasangannya di dunia. Dan peliharalah dia dari siksa kubur dan siksa neraka".

Dalam hadits lain dijelaskan, bahwa sedekah yang diniatkan untuk mayit, pahalanya akan sampai kepada mayit. Redaksi hadits tersebut adalah,

"Abdullah bin Abbas r.a. berkata: "Suatu ketika ibu Saad bin Ubadah meninggal dunia ketika Saad tidak berada ditempat. Lalu, ia datang kepada Nabi dan bertanya, "Wahai Rasulullah, ibuku telah meninggal dunia saat saya tidak mendampinginya, jika saya bersedekah dengan niat pahalanya buat beliau, akan sampaikah pahala itu kepada ibu saya? Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam menjawab: "Ya!" Saad berkata lagi, "Saksikanlah, bahwa kebunku yang banyak buahnya aku sedekahkan di jalan Allah, agar pahalanya dipetik oleh ibuku."

Ketiga: Dalil Ijma’

  1. Jumhur ulama sepakat, bahwa doa yang dibaca dalam shalat jenazah, sangat bermanfaat bagi mayit. Artinya, bila ia seorang pendosa, maka doa tersebut dapat meringankan siksanya, baik dalam kubur maupun di akhirat kelak.
  2. Utang mayit dianggap lunas bila dibayar orang lain, sekalipun bukan keluarganya. Berdasarkan hadits Abu Qatadah, ketika ia menjamin akan membayar hutang seorang mayit sebanyak dua dinar. Setelah ia tunaikan utang itu Nabi Salallahu Alaihi Wassalam bersabda:
أَلآنَ بَرَدْتَ عَلَيْهِ جِلْدَتَهُ
"Sekarang engkau telah mendinginkan kulitnya".

Pendapat ini dikuatkan pula oleh seorang pakar fiqih mahzab Hanbali, yaitu Syekh Abdullah bin Muhamad bin Humaid - rahimahullah -. Dalam kitab beliau berjudul "Gayatul Maqsud" beliau membahas secara khusus masalah ini. Beliau mengatakan;

"Bahwa seluruh ulama dari berbagai mazhab menyetujui pendapat ini. Yaitu, pahala yang diniatkan kepada mayit akan sampai padanya. Bahkan semua bentuk amal shaleh yang dilakukan orang yang hidup, lalu menghadiahkannya kepada mayit, seperti haji, sedekah, binatang korban, umrah, bacaan Al-Quran serta tahlil, takbir dan shalawat pada Nabi tidak diragukan lagi, akan sampai pada mayit."

Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah beberapa nashush fiqhiyyah dari berbagai mazhab, menyangkut masalah tahlil:

MAZHAB HANAFI
Usman bin Ali Az-Zaila’i dalam kitabnya ‘Kanzu Daqaiq’ menjelaskan dalam bab alhajju ‘an ghairihi sebagai berikut:
"Pada dasarnya, manusia memiliki hak untuk mentransfer pahala perbuatannya pada orang lain. Sebagaimana diakui oleh penganut ahli sunnah wal jama’ah, baik itu shalat, puasa, haji, sedekah, bacaan Al-Quran, dzikir dan lain sebagainya. Pendeknya, semua bentuk amal kebajikan. Dan seluruh pahalanya akan sampai kepada mayit bahkan dapat memberi manfaat bagi mayit."

Pendapat ini disetujui oleh Imam Al-Marginani pada awal bab al-hajju ‘anilghair (menghajikan orang lain).

MAZHAB MALIKI
Al-Qadhi ‘Iyadh ketika menjelaskan hadits riwayat Muslim yang berbunyi;

"Mudah-mudahan kedua pelepah korma ini dapat meringankan azab orang yang baru saja dikubur selama pelepah korma ini masih basah."

Dari hadist ini, para ulama berkesimpulan bahwa bacaan Al-Quran yang diniatkan untuk mayit hukumnya Sunah. Sebab bila pelepah korma saja dapat meringankan azab sang mayit, apatah lagi bacaan ayat Al-Quran? Tentu lebih utama dari pelepah korma. Pendapat ini didukung oleh Imam Al-Qarafi dan Syekh Ibnul Haj.

MAZHAB SYAFI'I
Imam Nawawi berkata;

"Disunahkan bagi orang yang menziarahi kubur untuk menyalami penduduk kubur yang diziarahi dan mendoakan mereka. Lebih afdhal lagi bila doa yang dibaca sesuai dengan yang pernah dibaca Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam. Demikian juga, disunahkan membaca Al-Quran untuk penghuni kubur, lalu disambung langsung dengan bacaan doa bagi keselamatan mereka."

MAZHAB HANBALI
Imam Ibnu Qudamah berkata;

"Segala bentuk perbuatan yang dapat mendatangkan pahala dan diniatkan untuk sang mayit muslim, insya Allah, dapat ia petik hasilnya. Apalagi doa, istigfar, sedekah dan hal-hal wajib yang memang harus ditunaikan. Para ulama sepakat, hal itu pasti dirasakan manfaatnya oleh sang mayit."

Pendapat ini dikuatkan oleh Syaikhul Islam Taqiyuddin Muhammad bin Ahmad Al-Fatuhi dan Syaikh Mansur Al-Bahuti.

  • TENTANG MENYEDIAKAN MAKANAN
Dalam ritual tahlilan, biasanya keluarga mayit menyediakan makanan untuk disuguhkan kepada tamu yang hadir dalam acara tersebut. Mereka meniatkan suguhan itu sebagai sedekah. Padahal, Nabi Salallahu Alaihi Wassalam justru memerintahkan para tetangga atau karib kerabat keluarga yang berdukalah yang mengulurkan bantuan. Baik itu berupa makanan atau apa saja guna meringankan beban sekaligus menghibur mereka. Karenanya ungkapan rasa belasungkawa pun mereka tunjukkan dengan membawa sesuatu untuk melancarkan prosesi penguburan jenazah. Di antaranya adalahdengan membawa makanan bagi keluarga yang dilanda musibah.

Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بِنْ جَعْفَرَ قَالَ : لَمَّا جَاءَ نَعْيُ جَعْفَرَ حِيْنَ قُتِلَ قَالَ النَّبِيُّ ": اصْنَعُوْا لآلِ جَعْفَرَ طَعَامًا فَقَدْ أَتَاهُمْ مَا يُشْغِلُهُمْ (رواه الشافعي وأحمد).

"Abdullah bin Ja’far berkata: "Tatkala datang berita bahwa Ja’far telah terbunuh, Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam bersabda: "Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far! Karena telah datang kepada mereka hal yang menyibukkan mereka." (HR. Asy-Syafi’i dan Ahmad).

Karena itu, sepatutnya yang menyediakan makanan bagi keluarga yang dilanda musibah adalah tetangganya. Bukan keluarga si mayit yang sudah tertimpa musibah, masih pula harus menyediakan makanan bagi kerabat dan handai taulan yang datang berta'ziah.

Adapun pendapat lain yang memperbolehkan keluarga si mayit menyediakan makan bagi para penta’ziah di saat tahlilan merujuk pada hadits yang menganjurkan supaya mereka bersedekah dengan niat agar si matiy mendapatkan pahalanya. Dengan demikian pahala menjamu penta'ziah saat tahlilan semata-mata dimaksudkan untuk dihadiahkan bagi si mayit.

Akan tetapi perlu kiranya diingat bahwa memberi makan para penta'ziah dalam kondisi duka seperti ini bukan merupakan hal yang wajib. Oleh karenanya, jangan sampai keluarga yang berduka memaksakan diri menjamu tamu. Apalagi sampai berhutang demi memenuhi kebutuhan jamuan tersebut, atau lebih mendahulukan jamuan daripada hal-hal lain yang sifarnya wajib, semisal menunaikan wasiat dan melunasi hutang-hutang si mayit.

  • TENTANG TA'ZIAH
Sebenarnya, sejak dulu ta’ziyah sudah sering dibahas ulama fiqih. Dalam literatur fiqih, bahasan ta’ziyah masuk kategori bab ibadah. Ta’ziyah tidak dapat dipisah dari permasalahan jenazah, atau ketika para ulama membahas hukum mengunjungi orang sedang sakaratulmaut atau meninggal dunia. Termasuk di dalamnya hukum memandikan mayit, mengkafankan, menguburkan sampai menshalatinya. Maka ta’ziyah, tentu saja, tidak akan luput dari perbincangan ulama. Ia ibarat ungkapan belasungkawa seseorang sebagai ekspresi dari rasa solidaritas terhadap musibah yang menimpa saudaranya.

  • PENGERTIAN TA'ZIAH
Menurut bahasa, ta’ziyah bersumber dari akar kata ‘azza. Artinya, menghimbau agar bersabar, atau membantu melapangkan dada seseorang yang sedang ditimpa musibah. Sedangkan menurut istilah, terdapat beberapa definisi ulama. Akan teapi semuanya tidak keluar dari makna lugawi di atas. Di antaranya adalah sebagai berikut:

Syarbini al-Khatib menjelaskan, bahwa ta’ziyah adalah:

"Menasehati orang yang berduka cita untuk tetap sabar. Mengingatkan ganjaran yang dijanjikan bagi orang sabar dan kerugian bagi orang yang tidak sabar. Memohonkan ampunan kepada si mayit, agar tegar menghadapi musibah."

Imam Nawawi berkata:

"Ta’ziyah adalah menyabarkan, dengan wasilah apa saja yang dapat menyenangkan perasaan keluarga mayit, dan meringankan kesedihannya."

Imam Al-bahuti Al-Hanbali, menyebutkan:

"Ta’ziyah adalah menghibur dan memberi semangat kepada orang yang ditimpa musibah agar tetap sabar. Mendoakan si mayit bila ia seorang muslim atau muslimah."

Ibnu Qudamah menyatakan, bahwa yang dimaksud dengan ta’ziyah adalah:

"Menghibur keluarga mayit dan membantu tunaikan hak mereka, serta senantiasa berada di dekat mereka."

  • HUKUM TA'ZIAH
Para fuqaha sepakat bahwa hukum ta’ziyah hanyalah sunnah. Tidak ada seorang pun memperselisihkan hal ini. Di bawah ini beberapa kutipan ringkas pendapat mereka:

Ad-Dardiri: "Disunatkan ta’ziyah untuk keluarga mayit."

Ibnu ‘Abidi: "Disunatkan ta’ziyah bagi siapa saja. Untuk perempuan tentu bagi yang tidak menimbulkan fitnah."

An-Nawawi: "Imam Syafi’i dan murid-muridnya berpendapat bahwa ta’ziyah hukumnya sunnah."

Ibnu Qudamah: "Disunatkan untuk ta’ziyah kepada keluarga mayit. Sejauh ini, tidak ada perbedaan pendapat tentang hal ini, hanya saja Imam Tsauri membatasi hukum sunnah di sini sebelum dikuburkan. Setelah penguburan selesai ta’ziah tidak dianjurkan lagi, karena segala urusan yang berhubungan dengan mayit telah selesai."

Al-Wazir bin Habirah: "Semua ulama sepakat, bahwa hukum ta’ziyah adalah sunnah."

Dari pernyataan ulama-ulama berbagai mazhab di atas maka jelaslah bahwa hukum ta’ziyah hanya sunat. Tidak ada seorang pun dari mereka yang menyatakan wajib, atau sebaliknya, bahwa ta’ziyah tidak boleh. Kendati demikian, ada beberapa dalil yang menyatakan bahwa ta’ziyah itu masyru’ seperti di antaranya:

"Sesungguhnya Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam bersabda, "Barang siapa menghibur saudaranya yang seiman kala ditimpa musibah, maka Allah akan mengenakan ia sebuah pakaian berhias dengan warna hijau menyenangkan di hari kiamat kelak. Sahabat bertanya, ya Rasulullah, apakah yang menyenangkan itu? Dijawab oleh Rasulullah, yaitu sesuatu yang membuat orang iri padanya." [HR Anas r.a]

"Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam bersabda: "Barang siapa menghibur saudaranya yang ditimpa musibah, maka ia akan memperoleh pahala seperti pahala orang yang ditimpa musibah tersebut." [HR Abdullah bin Mas’ud r.a]

"Sesungguhnya Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam bersabda: "barang siapa menghibur wanita yang kehilangan anaknya (wafat), maka Allah akan memakaikannya pakaian kebesaran di dalam surga." [HR Abu Bazrah r.a]

  • HIKMAH TA'ZIAH
Tentu saja ta’ziyah memiliki hikmah yang dalam sebagaimana ibadah-ibadah lainnya. Bahkan hikmah yang terkandung di dalamnya amat banyak, baik yang tampak maupun yang tersirat. Karena itu, sebagian ulama menjabarkan hikmah yang dikandung dalam ta’ziyah. Di antaranya adalah penjelasan Al-Shawi Al-Maliki yang dinukil dari Ibnu Qasim bahwa sesungguhnya ta’ziyah memiliki tiga hikmah besar.

Pertama: memberikan kemudahan dan jalan keluar kepada keluarga mayit. Menghibur mereka agar tetap tabah dan teguh hati dalam bersabar. Mengingatkan pahala sabar. Dan ridha atas ketentuan Allah dengan menyerahkan segala urusan kepada-Nya semata.

Kedua: berdoa agar Allah Subhanahu Wata'ala mengganti musibah tersebut dengan ganjaran pahala yang (sangat) besar.

Ketiga: mendoakan dan memohonkan ampun bagi si mayit agar Allah Subhanahu Wata'ala senantiasa mengasihinya.

Selain ketiga hikmah di atas, Ibnu Qasim menambahkan hikmah lain dari ta'ziah sebagai berikut:

Momentum bagi keluarga si mayit untuk mengingat dan berbuat amal kebajikan serta senantiasa mengingat Allah Subhanahu Wata'ala. Menyadari bahwa kematian dapat menjemput kapan saja, dan di mana saja. Sebab, sesungguhnya kematian itu amatlah dekat dengan manusia. Maka hendaknya setiap anggota keluarga yang ditinggalkan mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya menyongsong kematian yang akan datang kapan saja. Agar dengan demikian, saat dirinya menghadap Allah Subhanahu Wata'ala kelak, maka seluruh jiwa dan raganya sudah dalam keadaan ridha dan Insya Allah, mendapat ridha dari Allah Subhanahu Wata'ala pula. Di samping itu, ta'ziah dapat pula mencegah keluarga si mayit dari perilaku maksiat yang dimurkai Allah Subhanahu Wata'ala setelah kematiannya.

  • KESIMPULAN
Ditinjau dari aspek membaca ayat-ayat Al-Quran, tahlil, tahmid, takbir, tasbih, shalawat, doa dll, maka kesemuanya sangat dianjurkan oleh Islam untuk dilaksanakan. Bacaan Al-Quran, tasbih, istigfar dan amalan-amalan lain yang dihadiahkan kepada si mayit pun, Insya Allah, akan sampai pahalanya sebagaimana yang diniatkan. Demikian pula dengan menyediakan makan dan melaksanakan ta'ziah.

Pembaca dapat menelaah kembali pendapat-pendapat ulama di atas melalui bebagai literatur bebas dari ensiklopedi hukum Islam yang ada. Tulisan ini hanya stimulan awal, untuk kemudian dikaji lebih luas dan mendalam pada kesempatan lain.

Demikanlah uraian singkat ini disampaikan dengan harapan semoga dapat memperkaya pemahaman kita tentang ajaran Islam. Hanya kepada Allah jualah kita bermohon, mudah-mudahan kita diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah.
Amin ya Rabbal ‘Alamin!


[Oleh Luqmanul Hakim Abubakar - Dari Blog Bismillah]


0 comments:

PENGERTIAN SYIRIK

Dalam pengertian yang paling sederhana, Syirik adalah suatu perbuatan (dalam sikap dan, atau niat) terutama menyangkut aqidah di mana seseorang melakukan sesuatu bukan sepenuhnya karena Allah SWT - atau secara sadar mencampur baurkan ke-esaan dzat Allah SWT dengan unsur-unsur lain yang menurut ajaran Islam dapat diartikan sebagai perbuatan menyekutukan Alah SWT. Adapun menurut sifatnya, Syirik terbagi dalam 3 (tiga) kelompok besar yakni:

1. SYIRIK YANG MENYELISIHI SIFAT-SIFAT ALLAH TA'ALA

a. Syirik Rububiyyah, yaitu meyakini bahwa selain Allah ada yang mampu menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan atau mematikan dan hal-hal lain dari sifat-sifat rububiyyah.

b. Syirik Uluhiyyah, yaitu meyakini bahwa selain Allah ada yang mampu memberikan madharat atau manfaat, memberikan syafaat tanpa izin Allah, dan lainnya yang termasuk sifat-sifat uluhiyyah.

c. Syirik Asma' Wa Sifat, yaitu meyakini atau percaya kepada makhluk Allah yang memiliki sifat-sifat khusus yang dimiliki Allah Ta'alla, seperti mengetahui perkara gaib, dan sifat-sifat lain yang merupakan kekhususan Rabb kita yang Maha Suci.


2. SYIRIK MENURUT KADARNYA

a. Syirik Akbar (besar), yaitu syirik dalam keyakinan, dan hal ini mengeluarkan pelakunya dari agama islam.

  • Syirik dalam berdoa, yakni merendahkan diri kepada selain Allah dengan tujuan untuk istighatsah dan isti'anah kepada selain-Nya.
  • Syirik dalam niat, kehendak dan maksud, manakala melakukan ibadah semata-mata ingin mendapat pujian, atau untuk kepentingan-kepentingan bersifat duniawi lainnya.
  • Syirik dalam keta'atan, yaitu menjadikan sesuatu sebagai pembuat syariat selain Allah Subhanahu Wa Ta'ala atau menjadikan sesuatu sebagai sekutu bagi Allah dalam menjalankan syariat dan ridho atas hukum tersebut.
  • Syirik dalam kecintaan, adalah mengambil makhluk sebagai tandingan bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Menyetarakan kecintaannya kepada makhluk dengan kecintaanya kepada Allah SWT.

b. Syirik Ashghar (kecil), yaitu Riya', hal ini tidak mengeluarkan pelakunya dari agama islam, akan tetapi mewajibkan pelakunya untuk bertaubat. Riya' bukan satu-satunya yang termasuk dalam Syirik Ashgar. Atau Riya' memang termasuk Syirik Ashghar namun tidak semua Syirik Ashghar berupa Riya'.

c. Syirik Khafi (tersembunyi), yaitu seorang melakukan amal dikarenakan keberadaan orang lain, hal ini pun termasuk dalam Riya', dan hal ini tidak mengeluarkan pelakunya dari agama Islam, namun pelakunya wajib bertaubat.


3. SYIRIK MENURUT TEMPAT KEJADIAN


a. Syirik I'tiqodi, yaitu Syirik yang berupa keyakinan, misalnya meyakini bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang menciptakan kita dan memberi rizki pada kita namun di sisi lain juga percaya bahwa dukun misalnya, dapat mengubah takdir yang telah digariskan Allah SWT kepada kita. Hal ini termasuk Syirik Akbar yang mengeluarkan pelakunya dari agama islam.

b. Syirik Amali
, yaitu setiap amalan zahir yang dinilai oleh syari'at islam sebagai sebuah kesyirikan, seumpama menyembelih hewan (atau makhluk Allah lainnya) untuk selain Allah, dan bernazar untuk selain Allah dan lain sebagainya.

c. Syirik Lafzhi
, yaitu setiap lafazh yang dihukumi oleh syari'at islam sebagai sebuah kesyirikan, seperti bersumpah dengan selain nama Allah, seperti misalnya , "Tidak ada bagiku kecuali Allah dan engkau", dan "Aku bertawakal kepadamu", "Kalau bukan karena Allah dan si fulan maka tak akan begini dan begitu jadinya", dan lafazh-lafazh lainnya yang mengandung unsur kesyirikan (menyekutukan Allah SWT).

Dengan mengetahui serba sedikit tentang Syirik ini mudah-mudahan kita dapat menghindari diri darinya, mendorong diri untuk senantiasa berupaya mempertebal keyakinan dan iman kepda Allah SWT agar tidak terjatuh dalam kesyirikan dalam bentuk apapun, atau dengan cara apa pun juga. Wallahualam Bissawab.



Sumber: Penjelasan Al-Qaul Al-Mufid fii Adillati At-Tauhid (terjemahan)


0 comments:

NIKMATNYA SESAT

Oleh Abdullah Wong, ditulis pada Ahad, 6 Pebruari 2011, pukul 10.15. ketika ditulis, penulis tidak tahu pada saat yang sama tengah berlangsung peristiwa di Banten. Sebelumnya penulis berharap tulisan ini dapat dimuat di sebuah media cetak. Tapi karena tulisan ini sangat buruk, jadi saya bagi untuk Anda di internet. Selamat Menikmati.

Sebelumnya saya mohon maaf. Coba sekali ini saja, tanyakan sejenak dalam hati Anda, mengapa Anda tertarik untuk membaca “Aliran Sesat”? Apakah Anda termasuk orang yang sedang mencari bahan atau informasi tentang ciri-ciri atau identitas kesesatan seseorang atau suatu kelompok? Sehingga ketika Anda bertemu orang lain atau kelompok tertentu, Anda dapat langsung menilai bahwa orang tersebut sesat, berdasarkan informasi atau ciri-ciri yang Anda terima. Ataukah Anda sendiri sedang gelisah dan khawatir, kalau-kalau Anda berada dalam kesesatan? Sehingga Anda merasa perlu untuk mencari tahu, jangan-jangan apa yang selama ini Anda pahami adalah kesesatan yang nyata. Atau mungkin Anda sedang iseng, karena siapa tahu ada informasi tertentu tentang kesesatan yang selama ini belum Anda dapatkan? Atau mungkin, Anda adalah orang yang sangat serius mencari dan menggali informasi tentang kesesatan? Sehingga Anda tidak akan mudah menyetempel orang lain dengan label sesat? Tapi, kalau pun Anda bukan termasuk dari semua yang saya asumsikan, maka jelas kiranya, bahwa asumsi saya ini sudah mengandung kesesatan.

Kalau selama ini Anda punya kebiasaan atau mungkin hobby menyesatkan orang lain, pernahkah Anda berpikir sebagai pribadi yang berada dalam kesesatan? Atau karena saking benarnya Anda, sehingga Anda tidak sempat untuk menyadari bahwa Anda sendiri sesungguhnya sesat. Mungkin aneh, apalagi ungkapan-ungkapan saya ini terkesan hanya memutar balik kata-kata. Padahal, apa yang ingin saya ajukan, adalah kemungkinan-kemungkinan atau ciri-ciri, kenapa saya seringkali disebut sebagai sesat.

Baiklah, anggap saja saya yang sesat dan Anda yang benar. Kalau keadaannya demikian rasanya lebih mudah dan nyaman. Setidaknya untuk Anda yang selalu suka dalam zona nyaman (comfort zone) sambil bermain di time zone. Karena Anda sebagai yang benar, akan lebih mudah melihat jalan pikiran orang yang sesat seperti saya. Dan Anda tidak perlu pusing, apalagi mau percaya dengan saya, toh saya ini adalah sesat! Lanjutkan saja kebenaranmu yang agung itu, teruskan saja mengakui diri Anda sendiri sebagai yang paling benar, dan biarkan saya saja yang tetap sesat. Oke? Hidup sesat!

Maka, inilah ciri-ciri kesesatan saya. Boleh jadi, ini adalah Aliran Sesat tapi belum memiliki badan hukum, karena kebetulan belum sempat diajukan ke notaris. Saya adalah seorang lelaki yang kebetulan terlempar lahir di jagat ini tanpa saya rencanakan sendiri sebelumnya. Karena saya tidak pernah merencanakan, maka otomatis saya tidak pernah tahu apa itu kehidupan, siapa sejatinya saya, juga kemana akhir dari kehidupan. Secara kebetulan, saya beragama Islam, karena memang orangtua dan keluarga saya beragama Islam. Setelah melewati sekian perjalanan dan pendidikan, saya justru semakin ragu dengan keyakinan yang saya ikuti secara turun temurun. Orang lain mungkin mengatakan, nikmat terbesar adalah nikmat Iman dan Islam. Tapi bagi saya, itu hanya anggapan pikiran kita sendiri saja. Kalau orang lain semakin yakin karena ada ayat atau hadis yang menyatakan itu, lagi-lagi itu hanya cara kita memahaminya. Islam dan Iman yang seperti apa? Kalau Anda membaca ayat-ayat itu dengan tafsir, maka saya yang sesat juga punya perangkat-perangkat tafsir. Tapi sudahlah, tidak keren kalau kita berantem hanya soal tafsir. Apalagi si Tafsir, kawanku itu, sekarang sudah jadi anggota DPR. Yang jelas, saya menjalani Islam adalah sebagai upaya melanjutkan keyakinan dan tradisi orang tua. Tentu saja yang saya rasakan keislaman saya tidak pernah utuh.

Lalu? Saya harus memilih sendiri jalan yang saya anggap benar. Sekali lagi menurut anggapan saya. Dan entah kenapa pilihan saya, jatuh pada agama yang disebut Islam. Mungkin karena sisa-sisa ajaran orang tua dan lingkungan yang masih sangat memengaruhi saya. Padahal dengan sepenuh hati, saya juga memelajari agama-agama lain, berinteraksi dan menanyakan langsung dengan tokoh-tokoh agama lain. Namun entah kenapa, saya masih takut kalau ajaran lain salah. Dan saya merasa nyaman, bahwa hanya Islam saja yang benar. Tentu saja, ini semua juga masih dalam anggapan saya saja.

Apakah kebenaran itu bisa selesai oleh sebuah anggapan seperti yang saya lakukan ini? Kalau demikian, kenapa umat lain sangat yakin dengan ajaran yang mereka anut? Bukankah itu sebuah anggapan juga? Kalau masing-masing umat punya keyakinan-keyakinan sendiri tentang kebenaran, lalu dimana kebenaran yang sejati? Kalau sudah sampai di sini, biasanya suatu kelompok atau agama tertentu akan berkata, “Ya hanya keyakinan kami yang benar!” “Oke, ajaran Anda yang benar, tapi apa alasannya?” Maka dengan santai Anda akan menjawab, “Tentu saja, karena di kitab suci kami, ada satu ayat yang menyebutkan bahwa hanya agama “inilah” yang benar.” “Lho, bagaimana kami akan percaya dengan alasan itu, bukankah itu adalah kitab yang Anda percayai, sementara saya sama sekali tidak percaya dengan agama Anda, apalagi kepada kitab yang Anda percaya itu. Kalau hanya itu alasannya, di dalam kitab saya juga ada ayat yang menyebutkan bahwa ajaran sayalah yang paling benar.” Lagi-lagi kita akan berantem. Ujungnya, biasanya akan muncul ungkapan, “Okelah kalau begitu, silakan saudara yakini agama dan kepercayaan saudara, kita buktikan nanti di akhirat, siapa yang benar.” Wah-wah, luar biasa agama sudah dipertaruhkan. Dan tanpa sadar saya tetap kukuh dengan keyakinan yang saya anggap benar. Sekali lagi yang saya sanggap benar.

Baik, saya akan lanjutkan ciri-ciri kesesatan saya. Jujur saja, selama ini saya memilih agama Islam karena saya punya harapan sekaligus punya kekhawatiran. Harapan saya tentu saja ingin selamat di dunia, sukur-sukur nanti di akhirat. Sedangkan kekhawatiran saya adalah jika saya tidak memilih Islam, maka saya akan sengsara di dunia dan juga nanti di akhirat. Persis seperti doa sapu jagat itu. Amit-amit jabang bayi. Ternyata, saya memilih dan meyakini agama Islam semata-mata demi kepentingan saya sendiri. Ya, jujur saja, saya beragama Islam, beribadah, berbuat baik, salih, semata-mata karena supaya selamat dan diselamatkan oleh Tuhan. Kehidupan agama dan sosial saya tidak pernah otentik! Karena apa yang selama ini saya lakukan hanya demi memenuhi ego dan kepentingan diri semata. Mulai dari selamat dan damai di dunia, sampai nanti akan masuk surga dan bahagia selama-lamanya. Ya, ternyata selama ini saya beribadah demi sebuah kepentingan diri.

Sepanjang itu pula, saya sangat bergantung pada amal. Saya paling takut kalau saya tidak mengerjakan amal ibadah. Saya akan begitu merasa lega kalau misalnya sudah mengerjakan shalat. Rasanya kewajiban saya sudah gugur. Tak peduli apakah orang lain sengsara atau masuk neraka. Karena yang ada dalam benak saya adalah bahwa Tuhan hanya akan menerima hamba yang memiliki amalan yang cukup. Pantas saja selama ini saya takut mati! Karena saya masih terus merasa kurang menjalani amal ibadah saya. Ibadah yang saya jalani selalu dalam ukuran kualitatif. Wajar saja bila saya masih selalu merasa kurang lengkap dan kurang ikhlas menjalani ibadah saya. Tapi bagaimana saya bisa ikhlas, sementara semua ibadah yang saya lakukan adalah demi kepentingan saya sendiri? Ketergantungan saya terhadap amal ini saya pertaruhkan. Saya tidak peduli dengan prinsip Allah sebagai tempat bergantung (Allahusshomad). Saya tak peduli dengan prinsip Inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa mamaati lillahi robbil’alamin. Itu cukup di mulut saya saja. Inilah kesesatan saya yang nyata. Tapi, tenang saja, Anda masih golongan yang benar. Anda tentu tidak begitu, bukan?

Lalu saya mencoba menjalani kehidupan Islam saya secara lebih ketat. Saya mencoba mengikuti jalan tarikat sebagai titian khusus seorang pencari kebenaran. Di sana, saya malah semakin tergantung pada amal. Saya merasakan bagaimana saya mengagungkan amalan-amalan, wirid-wirid tertentu, yang bila semakin banyak saya lakukan, saya makin merasa nyaman dan tentram. Tentu saja merasa tentram, karena saya merasa memiliki amalan yang cukup. Dzikir dan tarikat yang saya jalani, semakin menjadi adiktif, membuat saya selalu ketagihan. Dzikir dan kontemplasi hanya menjadi pelarian di malam hari, tapi ketika siang hari datang, hati kembali berkobar dalam angkara. Di sini, saya tidak mendapatkan akar. Semua ritual yang konon dapat menghapus kegelisahan, ternyata hanya pengalihan sesaat. Keasyikan berzikir, sama nilainya dengan keasyikan bermain drum, bermain gitar, atau membacakan sajak. Semua upaya batin melalui olah nafas, zikir pelan dan keras, konsentrasi dan sebagainya tetap saja menjadi sebentuk pengalihan. Hebatnya, kondisi saya yang dipenuhi ragam amalan yang dilakukan terus-menerus membuat saya selalu siap untuk mati. Tapi ujung-ujungnya sama saja, siap mati karena kesadaran mengagungkan amal. Keyakinan yang semakin kuat adalah, hanya sang amal yang akan menyelamatkan saya. Padahal konon, Tuhan memanggil, “Hai jiwa yang tenang, pulanglah ke pangkuan-Ku.” Bukan berkata, “Hai amal-amal yang banyak, datanglah.”

Dalam tarikat itu pula saya asik dengan “upaya” pembersihan diri. Saya merasa sanggup untuk membersihkan diri saya sendiri. Bahkan, upaya-upaya pembersihan diri (tazkiyah nafs) itu, memberi peluang kepada saya untuk menjadi sok suci, yang ujungnya merendahkan pribadi lain yang dianggap “kotor”. Hebat, bukan? Dengan apa? Tentu saja saya membersihkan jiwa saya dengan semua amalan yang mesti saya lakukan. Semakin banyak wirid yang saya baca, maka semakin bersihlah saya. Itu logika sederhana saya. Seperti lagu Rhoma Irama dalam ungkapan lain, “Kau yang mengotori, kau yang membersihkan.”

Tak hanya itu, saya juga semakin mantap karena dalam satu tarikat itu, hadir sosok guru yang biasa disebut mursyid. Wah, dengan keberadaan seorang mursyid, saya semakin nyaman lagi. Apalagi sang mursyid dengan bahasa cintanya sering mengakatan bahwa dirinya akan menyelematkan para pengikutnya melalui syafaatnya, kelak di akhirat. Tentu saja, saya yang sesat ini, tidak percaya bahwa puncak syafaat sesungguhnya adalah kesadaran. Alih-alih saya lebih berharap dan mendapat tempat di hati mursyid, ketimbang Tuhan. Sosok mursyid benar-benar telah menggantikan posisi Tuhan dalam hati saya. Maka, saya selalu cari perhatian (caper) di hadapan mursyid saya sendiri. Saya akan selalu tampil sok salih dan sok suci. Maka, tak peduli siang tak peduli malam, saya akan lakukan apa saja demi mursyid saya. Saya akan nyaman untuk bangun pada setiap malam, menunaikan shalat malam, berzikir sampai ribuan kali. Tapi kali ini beda, saya bukan lagi ingin selamat atau takut neraka, tapi saya melakukan semua itu demi tujuan yang lebih keren lagi; yakni mencapai Ma’rifat. Mantap, to? Maka ma’rifatlah yang menjadi tujuan saya. Dalam ekspresi lidah saya, memang mengatakan hanya Tuhan yang saya tuju, hanya Tuhan yang saya maksud, namun pelan-pelan dalam hati saya juga berdesir, saya juga ingin selamat, lho! Lagi-lagi, semua itu saya lakukan demi sebuah harapan. Harapan ma’rifat, atau pun harapan keselamatan diri. Inilah kesesatan saya. Kalem aja, sampai di sini Anda masih termasuk kelompok yang benar. Kalau pun Anda begitu, pasti tidak begitu-begitu amatlah!

Bah! Lalu kemana lagi? Ah, tidak usah mikirin orang sesat, kita lanjutkan saja bukti kesesatan saya yang lain. Bukankah akan disebut Tuhan jika DIA Mutlak Tak Terbatas? Kalau memang Tuhan itu Mutlak tak terbatas, maka tidak ada batasan-batasan cara untuk mendapatkan Tuhan. Tapi saya tetap menghargai Anda yang meyakini bahwa Tuhan yang benar adalah Tuhan yang Anda yakini itu. Tapi ingat, karena Tuhan itu Maha Mutlak, maka begitu banyak cara Tuhan—yang tak terbatas itu—untuk menghampiri hamba-hamba-Nya. Tapi tak ada satu jalan pun dari hamba untuk sampai kepada Tuhan. Hebat sekali kalau saya beranggapan bahwa saya akan sampai kepada Tuhan. Memangnya Tuhan itu terminal? Tuhan adalah Sang Kebenaran Yang Mutlak (Al-Haq). Dan kalau ada seseorang yang mengaku paling mengetahui Tuhan secara utuh, maka saya akan segera datangi orang itu, dan saya akan sembah orang itu. Karena dia ternyata lebih hebat dari Tuhan. Apa hebatnya? Karena orang itu merasa bisa mengetahui Tuhan dengan caranya. Memangnya kita bisa melihat benda-benda di sekitar kita tanpa keberadaan cahaya (matahari)? Coba saja masuk ke dalam kamar gelap tanpa cahaya. Buka mata lebar-lebar, apakah kita bisa melihat? Tidak! Kita melihat karena ada cahaya. Dan bodoh sekali rasanya ketika di siang hari kita bisa melihat sesuatu, tanpa menyadari keberadaan Matahari.

Entahlah. Bagi saya yang sesat ini, kebenaran adalah negeri tanpa jalan. Menurut saya, manusia tidak bisa sampai kepada kebenaran melalui organisasi, melalui kepercayaan, melalui dogma, pendeta, mursyid, syekh, kyai, wali, artis, atau bahkan ritual apa pun. Tidak pula kebenaran diperoleh melalui pengetahuan filosofis atau teknik-teknik psikologis. Kebenaran juga tidak bisa didapatkan hanya adengan memperbanyak amalan, ibadah, meditasi, kholwat atau yang sejenis. Kebenaranlah yang akan menemukannya sendiri dalam kesadaran batin sendiri. Kebenaran tak bisa didapatkan melalui “cara”; apakah itu cara analisis intelektual, filosofis, metafisik, atau pembedahan introspektif.

Kemudian, kalau pun saya memilih agama tertentu, sekali lagi lebih karena asumsi-asumsi saya sendiri. Apalagi kalau yang menyampaikan sekaligus menguatkan adalah seseorang wali yang bisa menghilang dan terbang, wah saya akan semakin mantap dengan keyakinan saya. Saya akan mengatakan bahwa matahari itu panas, tergantung pendapat guru saya. Kalau guru saya mengatakan matahari itu dingin, maka saya akan menerima kebenaran itu. Meskipun jelas-jelas saya merasakan sengatan mahatari yang terik. Maka, saya juga tidak perlu membuktikan es itu dingin, karena percuma saja saya rasakan dinginnya es kalau ternyata sang guru mengatakan bahwa es itu panas. Kebenaran yang saya dapatkan adalah kebenaran kata orang. Bukan Sang Kebenaran itu sendiri yang bicara.

Bila demikian, sepertinya saya tidak akan pernah bisa mendapatkan kebenaran. Karena saya tidak pernah pasrah untuk menerima kebenaran. Karena yang selama ini saya lakukan adalah upaya keras untuk mendapatkan kebenaran. Saya akan melakukan cara apa saja, demi mendapatkan kebenaran. Maka, kebenaran yang saya dapatkan adalah kebenaran melalui cara-cara tertentu, upaya-upaya tertentu, motif-motif tertentu, dan keyakinan-keyakinan tertentu. Bahkan pada pengamatan terhadap pohon atau rumput, selalu menyertakan si "aku". Si Aku selalu muncul pada setiap pengamatan dan penyaksian. Lalu bagaimana pengamatan bisa murni (mukhlis) dan utuh (akmal)?

Selagi saya meyakini ajaran saya yang seperti ini, jiwa saya tidak pernah merasa bebas dan merdeka. Karena saya selalu membangun citra-citra tertentu sebagai pagar keamanan, keimanan, politis dan pribadi. Pantas saja saya masih memilih agama sesuai asumsi diri. Saya akan terus didominasi oleh pemikiran, anggapan, relasi dan kehidupan sehari-hari orang lain. Harapan memiliki citra ini dan citra itu, adalah penyebab utama dari kesesatan saya sendiri. Apalagi selama ini pula, kepercayaan atas kebenaran yang saya yakini, dibentuk oleh konsep-konsep yang telah tertanam dalam batin saya. Maka, kebebasan saya tidak pernah superfisial, tapi selalu artifisial. Kebenaran yang saya jalani tidak pernah utuh dan otentik. Bagaimana saya tidak bebas merdeka, bagaimana saya tidak sesat, sementara apa yang saya amati selalu dipenuhi motif pribadi. Saya tidak pernah polos dalam pengamatan. Saya tidak pernah lepas dari rasa takut hukuman atau harapan ganjaran.

Sampai di sini, Anda masih sebagai kelompok yang benar. Dan tentu saja, saya masih bercokol dalam kesesatan yang nyata. Meski kesesatan yang saya rasakan juga masih berangkat dari asumsi saya. Artinya, kalau boleh berasumsi, saya juga bisa beranggapan bahwa Anda juga sesat, selagi itu masih menggunakan pikiran-pikiran Anda sendiri. Ah, tapi tidak. Pikiran Anda tepat, kok. Anda tetap sebagai golongan yang benar. Bukankah ini logika yang sudah kita sepakati bersama? Anda benar, dan saya akan tetap dan terus salah. Oke?

Dan bukti-bukti kesesatan saya yang lain adalah, setiap kali saya bertindak, tindakan saya selalu didasarkan pada pengetahuan. Padahal, pengetahuan hanyalah akumulasi waktu. Kenapa waktu? Karena pengetahuan adalah produk pikiran yang sudah lampau. Bukankah, pengetahuan hanya kumpulan pikiran-pikiran yang mendokumentasikan akan hal-hal lampau? Dengan demikian, maka selama ini saya selalu diperbudak oleh masa lalu. Pantas saja saya selalu didera konflik dan pergulatan terus menerus, ini karena saya masih bermain dan mengerahkan pikiran saya. Saya sudah mencoba ketika melihat matahari, rumput, kecoa, dan pori-pori. Meski saya berusaha jujur menyaksikan, tapi lagi-lagi selalu muncul affirmasi pengetahuan yang selama ini saya peroleh. Selalu saja di sana muncul si Aku.

Ah, meski sesat, tapi saya tetap keren. Toh saya masih menganut prinsip Laa ilaha illa Allah. Bukankah prinsip itu yang menjadi pondasi ajaran Islam? Tapi, Laa ilaha illa Allah yang saya pahami hanya sebatas ucapan. Saya tak mampu melakoni kesadaran Laa maujuda illa Allah atau pun Laa Masyhuda illa Allah. Buktinya ketika saya melihat, saya masih menyadari keberadaan sosok yang melihat. Saya masih menyadari keberadaan saya ketika saya berjalan, menulis, atau apa pun. Apa buktinya? Karena saya berasumsi. Sementara asumsi atau persepsi adalah buah pikiran. Sedangkan pikiran adalah produk si “aku”. Bagaimana saya bisa tidak sesat sementara masih ada si "Aku” dalam semua hal? Bukankah Tidak Ada Tuhan kecuali yang dikecualikan?

Bagaimana? Jelas sudah kesesatan saya to? Memang itu di antara sekelumit kesesatan saya. Dan saya bangga dengan kesesatan ini, sementara Anda masih baik-baik saja dengan kebenaran Anda. Anda tak perlu khawatir, karena Anda lebih oke dibanding saya. Ingat, logika yang telah kita sepakati bersama, “Saya sesat, Anda benar. Atau, Anda benar, saya sesat.” Kini saya hanya bisa melenggang, sambil bernyanyi, “Sesat-sesat di dinding, diam-diam merayap, datang Sang Kebenaran, HAQ, lalu ditangkap!”***


0 comments: