Semangkuk Mie

Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya.Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang.

Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tidak mempunyai uang.

Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata: “Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?”

“Ya, tetapi, aku tidak membawa uang” jawab Ana dengan malu-malu.

“Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu” jawab si pemilik kedai. “Silakan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu”.

Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang.

“Ada apa nona?” tanya si pemilik kedai.

“Tidak apa-apa” aku hanya terharu jawab Ana sambil mengeringkan air matanya.

“Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi ! Tetapi… ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi. Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri” katanya kepada pemilik kedai.

Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang lalu berkata:

“Nona, mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya.”

Ana terhenyak mendengar hal tsb.

“Mengapa aku tidak berpikir tentang hal itu? Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal , aku begitu berterima kasih. Tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.

Ana segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yg harus diucapkan kepada ibunya.

Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya berwajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah

“Ana, kau sudah pulang. Cepat masuklah, Ibu telah menyiapkan makan malam. Makanlah dahulu sebelum kau tidur. Makanan akan dingin jika kau tidak memakannya sekarang”

Pada saat itu Ana tidak dapat menahan tangisnya. Ia pun menangis di pelukan ibunya.

Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain di sekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi kepada orang yang s angat dekat dengan kita, khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita.

sumber : http://mylighter.multiply.com/tag/inspiration

由Gloria · Steinem总问乌龟

Gloria Steinem、 作家和领导在女权运动,在地质 实地考察曾经学到了一个重要政治教训作为一名学生。
“我采取了地质,因为我认为它是最少科学的 科学, “她告诉了观众在史密斯学院。

“在实地考察,而所有的人是看蜿蜒地流的 康涅狄格河,我支付没有注意。 反而,我有 发现在另一条路的堤防上升了在河外面,爬行 土路,并且在泥的一只巨型,巨型乌龟, 表面上爬行对此和得到压乘汽车。

“如此,是一好codependent与世界,我用力拖了并且推挤了并且 拉扯了,直到我设法运载这只巨大,重,恼怒的鳄龟 堤防和击倒路。

“我是正义的投入它回到河,当我的地质教授 到达了并且说, ‘您知道,乌龟在泥大概度过了 爬行那条土路的一个月由路的边下它的蛋,并且 您在河放回它。‘

“很好,我感到可怕。 但在最新岁月,我体会这是 最重要的政治教训学会的I,警告我关于左右 的两个独裁冲动的一。

“总问乌龟”。

Gloria Steinem

什么是成功?

经常和笑;

赢取聪明的 人民尊敬
并且孩子的喜爱;

赢得诚实的 评论家的欣赏
并且忍受错误朋友背叛;

赞赏 秀丽;
发现最佳在其他;

留给 世界好,还是
一个健康孩子,庭院补丁
或一个 被赎回的社会情况;

要知道甚而 一生活呼吸了
更加容易,因为您居住;

这是为了 成功。

Ralph Waldo爱默生

De pijn van de Ziel

In onze maatschappij, getuigen wij de daling van geweten. Het is gezamenlijk met unfashionability en de politieke onjuistheid van een bepaald traditioneel geloof. Ziet om het even wie geen verbinding?
Als u aan dit traditionele geloof intekent, wordt u onmiddellijk gestereotypeerd als wild-eyed fanatic, en slechter, enkel voor het geloven van het zelfde bericht dat door miljoenen eeuwenlang wordt goedgekeurd. Maar toch precies gezamenlijk met het dalende geweten van vandaag en verdere verhoging van misdaad, haat, zijn het immorele gedrag en de apathie, het openbare trashing van dit traditionele geloof geweest. Ik, opnieuw zegt iedereen ziet geen verbinding? De enige groep dat het eigenlijk „politiek correct“ is te haten is de groep die nog dit traditionele geloof houdt.
De schuld is iets geworden dat aan al kosten moet worden gezuiverd. Maar de schuld is als pijn, slechts voor de ziel. Als u al pijn verzacht, vroeg of laat zult u tegen een heet fornuis leunen en zult van uw vingers branden. Als u al schuld verzacht, zult u uiteindelijk de rest van uw lichaam in een gelijkaardige situatie vinden.

De ontwerper

Het is een de recente zomernacht op de kust van Oregon op een volledig-moonlit nacht. Het is zo helder, is het bijna als dag. De reusachtige rotsvormingen langs een flikkerend strand zijn zo mooi ik enkel moeten ophouden. Lopend langs dit strand, dat de rotsvormingen eyeing, het strand, de maan, de starry hemel, word ik geslagen met een ongelooflijke gedachte. Dit kon onmogelijk net gebeurd zijn! Laat me verklaren.
Al mijn volwassen leven ben ik een professionele grafische ontwerper geweest. De meeste mensen begrijpen wat niet dat is.
Zij zeggen, „u bent een caricaturist?“
„Nr, ontwerp ik dingen voor druk--als deze brochure.“ Ik zou antwoorden, overhandigend hen een steekproef.
„Maar dit heeft geen beeldverhalen daarin. Nam u deze foto's? „
„Nr, een commerciële fotograaf.“
„Goed, deed u dit het van letters voorzien?“
„Nr, dat type is plaatste op mijn computer.“
„Goed, drukte u het?“
„Nr, een printer!“
„Goed, wat u?“
„Ik ONTWIERP het! Iemand moet beslissen welke grootte en het kleur gaat zijn, wat voor foto's of kunstwerk te gebruiken hoe te om hen te bebouwen waar te om hen op de pagina te zetten, welke typestijl aan gebruik en hoe groot, hoeveel kolommen voor het lichaam te gebruiken, kopiëren hoe te om het te vouwen hoe te om het uitnodigend te maken om te lezen, welk soort te gebruiken document, of het zelf-post of in een envelop gaan en hoe te om de envelop te ontwerpen zal! In het kort, moet iemand de beste manier beslissen om in druk te communiceren. Het GEBEURT niet alleen!
Bingo! De zelfde dingsmensen hadden aan me jarenlang gedaan, had ik aan de Grote Ontwerper gedaan. Een gedrukt stuk gebeurt niet alleen zonder wordt ontworpen en wordt veroorzaakt. Of het haphazardly door Joe Printer of zorgvuldig door een professionele ontwerper heeft gedaan, moet het worden ontworpen en worden geproduceerd of het bestaat niet. Op de zelfde manier, kon deze mooie kustlijn niet net zonder een Ontwerper gebeurd zijn. Duidelijk, heeft het heelal ontwerp. De installaties worden gebouwd om in kooldioxide te nemen en zuurstof uit te zenden, worden de dieren en de mensen ontworpen om zuurstof te ademen en kooldioxide uit te ademen. Dit is ontwerp. Hoe kon het ontwerp zonder een Ontwerper hebben? Hoe kon het zonder de Grote Ontwerper bestaan?

CERITA BIJAK : EMPAT KALI TUJUH

"Empat kali tujuh adalah dua puluh tujuh" : Kata pria pertama

"Empat kali tujuh adalah dua puluh delapan" : Kata pria kedua



Kedua orang itupun berterngkar sampai menjadi jengkel lalu berkelahi, dan dibawa menemui hakim setempat yang memerintahkan agar orang yang kedua dipenjara.



Orang itu berteriak memprotes. “Kamu sangat bodoh” , kata hakim dengan tenangnya, “sampai mau bertengkar dengan seorang yang dengan tololnya mengatakan bahwa empat kali tujuh adalah dua puluh tujuh. Bukankah kamu yang seharusnya dihukum?”



Orang itu pada akhirnya mengangguk setuju dan mengakui bahwa hakim benar.



Moral Cerita:

Diam adalah emas, ketika tidak ada gunanya berargumentasi. Jika orang kedua itu rational, dia mungkin tidak jatuh kedalam kesulitan karena menanggapi orang bodoh yang serius. Tetapi dalam hali ini, hukuman orang yang pertama akan lebih buruk dibandingkan yang kedua karena dia tidak pernah mengetahui bahwa dia salah


** siambil dari buku cerita Cina **

Apa benar kita musti diam kalau ada yang salah ?

Real Prophets, Real Men: Opposing Pornography

True prophets in biblical times were always speaking out against popular but evil trends. The intellectuals, the elite, the celebrities, and other opinion molders of the day often despised the prophets. Modern LDS prophets are in good company. Have you noted how often President Hinckley and other prophets speak out against pornography? In a day when it is so popular and widespread, their constant warnings are hardly tailored for popularity and mass acceptance. But the message is a vital one.

I am so grateful to belong to a Church that doesn't just say what people want to hear. I believe that the For the Strength of Youth booklet for youth truly is inspired, and am so glad that young people in this Church are warned of the dangers of sin and the blessings of chastity and freedom from pornography. I appreciate the suggestions for regulating media in our homes that the Church provides. I am proud of the First Presidency for speaking out against pornography so frequently. In this degrading era where Dr. Ruth is held up as a hero, and vile organizations like Planned Parenthood are more given far more respect than the Church or Christianity in general, people need the guidance that comes from a true prophet.

Why do I care? Because so many times I have seen the devastating effects of pornography. I have seen it wreck marriages for people that I cared about. I have dealt with many victims of sexual abuse, and know that pornography almost always plays a role in the sordid pattern of behavior associated with such crimes. I have seen people become calloused not only to the promptings of the Spirit, but to the feelings of other people. I have seen pornography change the mindset of others so that they viewed women as little more than slabs of flesh to play with, rather than the daughters of God that they are. I know that the MISINFORMATION it provides interferes with the ability of people to properly experience and grow from the real joys of intimacy in marriage - it leaves the disappointed, selfish, and even pathetic. It makes losers out of people who could have been great. Pornography is all about becoming a loser. Real men don't do pornography! Neither do real women. And real prophets speak out against these evils. Praise God that we have a real prophet today.

A related resource I offer is my page, "Mormon Answers: Love, Dating, and Marriage for Mormons" with my answers at some common questions dealing with morality.

Related thoughts:

I have little respect for the arrogance of self-styled intellectuals in the Church who sneer at prophetic warnings on morality and modesty, and think that they are in a different class of people who can "handle" pornography or making out or whatever. There is great wisdom and inspiration in our Prophet who urges us to flee pornography as if it were the plague. Those who think they are too smart for that might as well sneer at health officials who warn us to wash our hands and avoid drinking water contaminated with sewage.

I also know that the Church's program of interviews with Church leaders, so often mocked by critics in and out of the Church, is a powerful resource to help people get the help they need to overcome sin. Dealing with addictive problems like pornography or immorality of any kind (masturbation and beyond) can be very difficult for a person to do without the power that comes from honestly confessing and seeking counsel. People need a confidential outlet to discuss such problems, and coupled with the power of the Spirit and priesthood guidance, miracles can occur. (But these interviews need to be kept uplifting and non-threatening and comfortable, not prying improperly, always showing respect and compassion for the person being interviewed.)

On a final note, let me mention somebody you probably haven't heard about recently, unless you have access to a TV, radio, newspaper, or computer: Ronald Reagan. Among all the endless discussions of Ronald Reagan in the past few days, one thing I haven't heard the media mention at all was Ronald Reagan's moral stand against pornography. The controversial Meese Commission Report on pornography that came from the Reagan era has been denounced by almost everyone in the media. I suspect that the percentage of critics of the report who actually read it is about the same as the fraction of anti-Mormon writers who have read the Book of Mormon. I am one of the very few Americans who actually read the report (still have a copy of it). I feel the report has been grossly misreported and underreported, and that its documentation indeed provides powerful evidence that the porn industry does great harm to America and to many specific victims. It did not call for a new era of draconian censorship, but mostly called for enforcement of already existing Constitutionally valid laws. Reasonable people might disagree with some of its conclusions, but I have almost never heard reasonable people discussing what it actually said, or the evidence behind the recommendations.


Source :http://mormanity.blogspot.com/2004/06/real-prophets-real-men-opposing.html

The Something in Nothing


Here is a story from the Chhandogya Upanishad:

After years away at school, Shvetaketu returned home to his father, Uddalaka. Uddalaka could tell from Shvetaketu's boasting about how much he'd learned that he hadn't learned anything at all. Or at least nothing really worth knowing.
"Did your teacher teach you how to hear that which cant be heard or know what cant be known?" Uddalaka asked.
"Oh-oh. That wasn't in the curriculum."

"Go outside and get me a fruit from the banyan tree." Shvetaketu ran outside for the fruit.
"Now cut it in half," his father instructed. "What do you see?"
"I see the seeds, dad."
"Cut one of those in half." This wasn't very easy, banyan seeds are extremely small. Finally Shvetaketu managed to slice one evenly. "What do you see?" Uddalaka asked.
The boy was baffled. "What do you mean dad? There is nothing there."
Uddalaka looked his son in the eye, "From that 'nothing' an enormous tree arises. When you understand that 'nothing' is, you will understand yourself. The nothing you cant see is the very essence of the reality of the tree. The unperceivable essence of being is also what you are. You are that, Shvetaketu."
"Pour some salt into this bucket of water," Uddalaka continued. Shvetaketu obeyed. "Now give me the salt back."
"I cant do that!" Shvetaketu objected. "It is gone!"
"Take a sip of the water. You taste the salt, don't you? You couldn't see it, yet it was there all along. Just as the salt pervades the water, so the subtle essence of reality pervades your body. That subtle essence is true being. You are that, Shvetaketu."

source : http://www.storiesofwisdom.com/the-something-in-nothing/

Kisah Orang Tua Bijak

Pernah ada seorang tua yang hidup di desa kecil.
Meskipun ia miskin, semua orang cemburu kepadanya
karena ia memiliki kuda putih cantik. Bahkan raja
menginginkan hartanya itu. Kuda seperti itu belum
pernah dilihat orang, begitu gagah, anggun dan kuat.

Orang-orang menawarkan harga amat tinggi untuk kuda
jantan itu, tetapi orang tua itu selalu menolak :
"Kuda ini bukan kuda bagi saya", katanya : "Ia adalah
seperti seseorang. Bagaimana kita dapat menjual
seseorang. Ia adalah sahabat bukan milik. Bagaimana
kita dapat menjual seorang sahabat ?" Orang itu miskin
dan godaan besar. Tetapi ia tidak menjual kuda itu.

Suatu pagi ia menemukan bahwa kuda itu tidak ada di
kandangnya. Seluruh desa datang menemuinya. "Orang tua
bodoh", mereka mengejek dia : "Sudah kami katakan
bahwa seseorang akan mencuri kudamu. Kami peringatkan
bahwa kamu akan di rampok. Anda begitu miskin... Mana
mungkin anda dapat melindungi binatang yang begitu
berharga ? Sebaiknya anda menjualnya. Anda boleh
minta harga apa saja. Harga setinggi apapun akan
dibayar juga. Sekarang kuda itu hilang dan anda
dikutuk oleh kemalangan".

Orang tua itu menjawab : "Jangan bicara terlalu cepat.
Katakan saja bahwa kuda itu tidak berada di
kandangnya. Itu saja yang kita tahu; selebihnya adalah
penilaian. Apakah saya di kutuk atau tidak, bagaimana
Anda dapat ketahui itu ? Bagaimana Anda dapat
menghakimi ?". Orang-orang desa itu protes : "Jangan
menggambarkan kami sebagai orang bodoh! Mungkin kami
bukan ahli filsafat, tetapi filsafat hebat tidak di
perlukan. Fakta sederhana bahwa kudamu hilang adalah
kutukan".

Orang tua itu berbicara lagi : "Yang saya tahu
hanyalah bahwa kandang itu kosong dan kuda itu pergi.
Selebihnya saya tidak tahu. Apakah itu kutukan atau
berkat, saya tidak dapat katakan.Yang dapat kita lihat
hanyalah sepotong saja. Siapa tahu apa yang akan
terjadi nanti ?"
Orang-orang desa tertawa. Menurut mereka orang itu
gila. Mereka memang selalu menganggap dia orang tolol;
kalau tidak, ia akan menjual kuda itu dan hidup dari
uang yang diterimanya. Sebaliknya, ia seorang tukang
potong kayu miskin, orang tua yang memotong kayu bakar
dan menariknya keluar hutan lalu menjualnya. Uang yang
ia terima hanya cukup untuk membeli makanan, tidak
lebih. Hidupnya sengsara sekali. Sekarang ia sudah
membuktikan bahwa ia betul-betul tolol.
Sesudah lima belas hari, kuda itu kembali. Ia tidak di
curi, ia lari ke dalam hutan. Ia tidak hanya kembali,
ia juga membawa sekitar selusin kuda liar bersamanya.
Sekali lagi penduduk desa berkumpul sekeliling tukang
potong kayu itu dan mengatakan : "Orang tua, kamu
benar dan kami salah. Yang kami anggap kutukan
sebenarnya berkat. Maafkan kami".

Jawab orang itu : "Sekali lagi kalian bertindak
gegabah. Katakan saja bahwa kuda itu sudah balik.
Katakan saja bahwa selusin kuda balik bersama dia,
tetapi jangan menilai. Bagaimana kalian tahu bahwa ini
adalah berkat ? Anda hanya melihat sepotong saja.
Kecuali kalau kalian sudah mengetahui seluruh cerita,
bagaimana anda dapat menilai ? Kalian hanya membaca
satu halaman dari sebuah buku. Dapatkah kalian menilai
seluruh buku ? Kalian hanya membaca satu kata dari
sebuah ungkapan. Apakah kalian dapat mengerti seluruh
ungkapan ? Hidup ini begitu luas, namun Anda menilai
seluruh hidup berdasar! kan satu halaman atau satu
kata.Yang anda tahu hanyalah sepotong! Jangan katakan
itu adalah berkat. Tidak ada yang tahu. Saya sudah
puas dengan apa yang saya tahu. Saya tidak terganggu
karena apa yang saya tidak tahu".

"Barangkali orang tua itu benar," mereka berkata satu
kepada yang lain. Jadi mereka tidak banyak
berkata-kata. Tetapi di dalam hati mereka tahu ia
salah. Mereka tahu itu adalah berkat. Dua belas kuda
liar pulang bersama satu kuda. Dengan kerja sedikit,
binatang itu dapat dijinakkan dan dilatih, kemudian
dijual untuk banyak uang.

Orang tua itu mempunyai seorang anak laki-laki. Anak
muda itu mulai menjinakkan kuda-kuda liar itu. Setelah
beberapa hari, ia terjatuh dari salah satu kuda dan
kedua kakinya patah. Sekali lagi orang desa berkumpul
sekitar orang tua itu dan menilai. "Kamu benar", kata
mereka : "Kamu sudah buktikan bahwa kamu benar.
Selusin kuda itu bukan berkat. Mereka adalah kutukan.
Satu-satunya puteramu patah kedua kakinya dan sekarang
dalam usia tuamu kamu tidak ada siapa-siapa untuk
membantumu... Sekarang kamu lebih miskin lagi. Orang
tua itu berbicara lagi : "Ya, kalian kesetanan dengan
pikiran untuk menilai, menghakimi. Jangan keterlaluan.
Katakan saja bahwa anak saya patah kaki. Siapa tahu
itu berkat atau kutukan ? Tidak ada yang tahu. Kita
hanya mempunyai sepotong cerita. Hidup ini datang
sepotong-sepotong".Maka terjadilah dua minggu kemudian
negeri itu berperang dengan negeri tetangga. Semua
anak muda di desa diminta untuk menjadi tentara. Hanya
anak si orang tua tidak diminta karena ia
terluka. Sekali lagi orang berkumpul sekitar orang tua
itu sambil menangis dan berteriak karena anak-anak
mereka sudah dipanggil untuk bertempur. Sedikit sekali
kemungkinan mereka akan kembali. Musuh sangat kuat dan
perang itu akan dimenangkan musuh. Mereka tidak akan
melihat anak-anak mereka kembali. "Kamu benar, orang
tua", mereka menangis : "Tuhan tahu, kamu benar. Ini
buktinya. Kecelakaan anakmu
merupakan berkat. Kakinya patah, tetapi paling tidak
ia ada bersamamu. Anak-anak kami pergi untuk
selama-lamanya".

Orang tua itu berbicara lagi : "Tidak mungkin untuk
berbicara dengan kalian. Kalian selalu menarik
kesimpulan. Tidak ada yang tahu. Katakan hanya ini :
anak-anak kalian harus pergi berperang, dan anak saya
tidak. Tidak ada yang tahu apakah itu berkat atau
kutukan. Tidak ada yang cukup bijaksana untuk
mengetahui. Hanya Allah yang tahu".

Moral cerita :
Orang tua itu benar. Kita hanya tahu sepotong dari
seluruh kejadian. Kecelakaan-kecelakaan dan kengerian
hidup ini hanya merupakan satu halaman dari buku
besar. Kita jangan terlalu cepat menarik kesimpulan.
Kita harus simpan dulu penilaian kita dari badai-badai
kehidupan sampai kita ketahui seluruh cerita.

TINGGALKAN PESAN ANDA DI SINI


Go For The Fruit

It takes courage to begin something new. It takes courage to step out into the unknown. Life has no guarantees, but the reward for living your dream is filled with much fruit.

Starting is the key. We can have the best plans, projects, or ideas, but all is fruitless if we don't take that first step. You must be willing to act, willing to fail, and willing to persist until you achieve your dream.

Are you compelled to achieve success or do you tend to stay at rest? Sir Isaac Newton states that one continues to stay at rest unless compelled to change by forces impressed upon them. Once you're moving, you can keep moving.

Do you have that urge within to break out of the routine and begin to do what you've always wanted to do? Follow your heart. Follow your passion, and don't be afraid to go out on a limb, for that is where all the FRUIT is.

Go for the fruit!

David Croston
Motivational Concepts and Training

Worry

The harm that worry causes in our lives has been well documented by health professionals and others. Worry can weaken and sicken us, and make our days unbearable. At the very least, it prevents us from living fully and happily the only life that we will ever have. At its worse, it can destroy us.

"A god, invisible but omnipotent. It steals the bloom from the cheek and lightness from the pulse; it takes away the appetite and turns the hair gray." - Benjamin Disraeli (1804-1881)

It does a lot more than that, Benjamin!

But the worry disease can be cured and it certainly can be reduced. Of course it requires a change in our thinking - how to view and react to situations. Worrying over things that 'might' happen can waste large portions of our lives, considering that so often it is for nothing, and almost certainly does no good.

"If you can solve your problem, then what is the need of worrying? If you cannot solve it, then what is the use of worrying?" - Shantideva

Worrying about things that have happened will not turn back the hands of time to give you another try at doing it right. So that is a waste of time too. So many of our anxieties and fears are for nothing. Most of the rest can simply be discarded because worrying just isn't going to do any good. So let's spend our time thinking about the good and pleasant things in our lives, and move on in a peaceful and contented state of mind.

"I think these difficult times have helped me to understand better than before how infinitely rich and beautiful life is in every way and that so many things that one goes around worrying about are of no importance whatsoever." - Isak Dinesen

A program to become knowledgeable on the subject of worry, through reading and other instruction, can help in turning our lives around. A life filled with contentment and lacking stress and worry are the goals to be achieved.

It's never too late to start eliminating worry.

source: http://mymotivate.blogspot.com/

Always have a dream

Always have a dream...
Forget about the days
but don't forget your hours in the sun

Forget about the times
you've been defeated
but don't forget the victories you've won.

Forget about mistakes
that you can't change now
but don't forget the lessons
that you've learned.

Forget about misfortunes you encounter
but don't forget the about the
Blessings you have received.

Forget about the days
when you've been lonely
but don't forget
the friendly smiles you've seen.

Forget about the plans
that didn't seem
to work out right,
but don't forget
to always have a dream...
~ Amanda Bradley ~

Cerita Bijak: Kampak yg hilang

Seorang pria kehilangan kampaknja. Dia rnencurgai bahwa kampak tersebut dicuri oleh anak tetangganya, maka dia selalu mengamati si anak dengan cermat setiap hari. Anak itu berjalan seperti pencuri, kelihatan seperti pencuri, dan bicara seperti layaknya pencuri.

Beberapa hari kemudian, orang itu menemukan kapaknya ketika dia sedang menebang pohon di hutan.



Keesokan harinya ketika dia rnelihat anak itu; anak itu berbicara, berjalan dan berpenampilan seperti anak yang Iain, dia tidak kelihatan seperti pencuri lagi.



Moral of the story: Kadang kita bertindak seperti pria yang kehilangan kampaknya?



Diambil dari cerita bijak Cina

KEHIDUPAN YANG BAIK

Setiap orang yang hidup, baik laki-laki maupun perempuan menginginkan kehidupan yang baik. Tiada seorang pun yang menginginkan sebaliknya. Orang yang mencari ilmu sejak kecil sampai dewasa bahkan sampai tua; orang yang bekerja siang malam membanting tulang dan bermandikan keringat; Pegawai negeri/kerajaan, karyawan swasta, petani, enterpreneur dn sebagainya tidak lepas dari harapan untuk mendapatkan kehidupan yang baik.

Begitu pun negara-negara dan bangsa-bangsa di dunia yang tengah giat melaksanakan pembangunan disegala bidang, pada hakikatnya tiada lain guna mendapatkan kehidupan yang baik bagi seluruh rakyatnya.

Masing-masing orang, mempunyai pandangan tersendiri terhadap hakekat kehidupan yang baik itu. Ada yang memandang bahwa kehidupan yang baik itu terletak pada harta kekayaan; ada pula yang memandang bahwa kehidupan yang baik itu terletak pada pangkat, kedudukan/status sosial, pada ilmu, keturunan dan sebagianya, sesuai dengan kecenderungan masing-masing.

Pada lazimnya, kehidupan yang baik itu ialah kehidupan yang sejahtera, aman damai, sehat jasmani, sehat rohani dan senantiasa terhindar dari bencana atau malapetaka. Demikianlah idaman kebanyakan orang.

Adapun bagi orang yang beriman, idaman itu tidak hanya sampai disitu saja, melainkan diteruskan pula dengan kebaikan di akhirat yang ingin dicapainya.

Ulama terkenal al-Asfahani, dalam kitabnya Al-Mufradatu fi Gharibil Quran, dan al-Qurtubi dalam tafsirnya Al-Jami'u li Ahkamil Quran, menjelaskan, nahwa kehidupan yang baik itu mempunyai lima unsur, yaitu:

1. Dilimpahi rizki yang halal disertai sifat Qana'ah.
2. Dihiasi ilmu pengetahuan.
3. Dihiasi budi dan amal baik.
4. Diberi hidayah iman dan taufiq.
5. Dikaruniai investasi (tabungan) untuk akhirat.

Rizki yang halal, kiranya tidak dapat disangkal, bahwa ia merupakan unsur yang utama dalam kehidupan yang baik. Kekayaan yang melimpah tetapi cara memperolehnya tidak halal, walaupun pada dhahirnya seperti senang, namun di dalam jiwanya selalu resah-gelisah, risau dan penuh kekhawatiran. Kadangkala menghilangkan selera, walaupun dihadapannya terhidang makanan yang serba lezat.

Berbeda halnya dengan orang yang hidupnya dari rizki yang halal, meskipun tidak seberapa banyak namun menimbulkan ketenangan dan merasa aman. Apalagi jika hal itu di ikuti pula dengan sifat Qana'ah (menerima dengan rela atas rizki yang ada). Sebab itu, sifat Qana'ah perlu dimiliki oleh setiap orang.

Orang yang tidak memiliki sifat Qana'ah, betapapun banyak kurnia yang diberikan Allah kepadanya, niscaya akan tetap merasa kurang dan selalu tidak puas, bahkan menjadi ingkar dan tidak mau bersyukur.

Orang yang selalu merasa kurang puas atas rizki yang dikaruniakan Allah kepadanya, dilukiskan oleh Rasulullah saw. dalam sabdanya sebagai berikut: "Seperti orang yang telah memiliki dua bukit emas, tetapi ia meminta tiga bukit emas, dan bila telah memiliki tiga bukit emas, ia menginginkan empat bukit emas. Dan mereka tidak akan puas kecuali dengan tanah (dikubur, mati)".

Sebab itu berbahagialah orang-orang yang beriman dan diberi rizki yang halal serta berhati qana'ah, sebagaimana sabda Rasulullah saw: "Berbahagialah orang yang mendapat petunjuk (untuk beragama) Islam. Kehidupannya cukup dan menerima".

Unsur yang kedua adalah hiasan ilmu pengetahuan. Ilmu adalah sifat dan tanda kemulian manusia atas makhluk lainnya. Kemuliaan Nabi Adam a.s atas Malaikat dan Iblis adalah karena ilmunya; dan karena ilmu, ia berhak dita'ati dan di hormati. Orang yang berhasil hidupnya dalam bidang ekonomi, politik, sosial dan sebagainya adalah karena dibekali ilmu pengetahuan yang cemerlang. Hidup tanpa ilmu pengetahuan akan gelap sedangkan amal tanpa ilmu tidaklah merupakan amal yang sempurna. Tidak saja urusan duniawi, namun urusan ukhrawi pun harus dilakukan dengan ilmu. Sabda Rasulullah saw: "Barangsiapa yang menghendaki dunia (kekayaan), hendaklah dengan ilmu, barangsiapa yang menghendaki akhirat, hendaklah dengan ilmu, dan barangsiapa menghendaki keduanya, maka hendaklah dengan ilmu". (al-Hadist).

Mengingat betapa pentingnya kedudukan ilmu pengetahuan bagi manusia dalam menempuh perjalanan hidupnya, maka gama mewajibkan kepada umatnya agar senantiasa menuntut ilmu, sebagaimana Sabda Nabi saw: "Jadilah engkau orang yang berilmu, atau orang yang menuntut ilmu, atau orang yang mendengarkannya, atau orang yang mencintainya. Janganlah engkau menjadi yang kelimanya" (Al-Hadist).

Unsur yang ketiga adalah budi dan amal yang baik, seperti rendah hati, pemurah, pemaaf, suka menolong dan sifat-sifat terpuji lainnya. Apabila budi baik itu dimiliki seseorang, niscaya akan bertambah mulia orang itu. Demikian pula sebaliknya, kekayaan yang melimpah, kedudukan yang tinggi, ilmu yang luas dan sebagainya, apabila tidak disertai budi pekerti yang baik, niscaya akan menjatuhkan wibawanya. Paling tidak, mereka hanya akan menghormat ketika berhadapan saja, sedangkan dibelakang mereka menyerapah.

Sabda Nabi saw: "Shadaqah itu tidak akan mengurangi harta kekayaan sedikitpun. Allah takkan menambah bagi hambaNya yang pemaaf kecuali menambah kemuliannya.Dan seseorang yang tawadlu (rendah hati) karena Allah semata, niscaya Allah akan meninggikan derajatnya". (H.R Bukhari)
Berbahagialah orang-orang yang beriman serta memiliki sifat-sifat utama. Firman Allah: "Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, lelaki maupun perempuan, sedang ia beriman kepada Allah, niscaya akan diberi kehidupan yang baik ... (Q.S. 16 n-Nahl:97)

Unsur yang keempat adalah Hidayah Iman dan Taufiq. Seorang pelajar atau mahasiswa yang bertahun-thun menekuni pelajarannya, ingin menjadi sarjana dan mempunyai kedudukan, kemudian ia berhasil mencapainya, ini namanya mendapat taufiq dari Allah. Seorang pegawai atau pekerja, yang ingin memiliki rumah, kemudian ia menabung sedikit demi sedikit dan akhirnya berhasil membangun rumah, maka ini namanya mendapat taufiq, demikianlah seterusnya.

Dengan demikian, taufiq sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Banyak orang yang mempunyai keinginan dan cita-cita, tapi keinginan dan cita-citanya selalu kandas karena tidak sejalan dengan kehendak Dzat yang Maha kuasa. Andai pun cita-citanya tercapai, itu tidak dinamakan taufiq, karena tidak mendapatkan restu dari Allah SWT.

Demikianlah, Allah swt. memberi bimbingan, agar orang hidup selalu mengharapkan taufiq dari Allah swt: "Dan tiadalah taufiq bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawwakal dan hanya kepada-Nya pula aku kembali." (QS. 11 Hud:88)

Hidup tanpa taufiq dan iman, tidak akan mendatangkan ketenangan. Kehidupan tanpa dasar iman, akan selalu ragu-ragu dan selalu cemas atas sesuatu yang terjadi. Orang yang kehilangan iman, akan mudah putus asa dan sempit jalan hidupnya.

Berbahagialah orang-orang yang beriman dan senantiasa teguh memegang aqidahnya. Firman Allah swt: "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Rab-kami adalah Allah", kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan):"Janganlah kalian merasa takut dan janganlah kalian merasa sedih dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepada kalian." (QS.41 Fushshilat:30).

Di antara tanda-tanda yang membedakan antara orang-orang yang beriman (mukminin/mukminat) dengan lainnya, ialah mempercayai adanya hidup sesudah mati. Dan yaqin bahwa kehidupan akhirat itulah kehidupan yang kekal, sebagaimana firman Allah: "....serta mereka yaqin akan adanya kehidupan akhirat." (QS.al-Baqarah : 4)

Agama Islam memberikan petunjuk bahwa kehidupan di dunia haruslah dijadikan ladang untuk menanam sebanyak mungkin amal sholeh agar dapat dijadikan bekal untuk menjangkau kehidupan akhirat yang baik, atau mencapai sorga Allah dan terhindar dari segala adzab-Nya.

Berbahagialah orang-orang yang telah mendapatkan kehidupan yang baik di dunia, serta mempunyai INVESTASI (tabungan) untuk akhirat yang kekal. Dan alangkah akan menyesalnya orang-orang yang mendapatkan kebaikan dunia, namun ia tidak mempunyai tabungan untuk akhiratnya. Sebagaimana dilukiskan Allah swt dalam firman-Nya: "Sebagian diantara manusia, ada yang berdo'a: "Rabbana berilah kami kebaikan di dunia", dan tiadalah baginya kebaikan di akhirat." (Q.S.2 Al-Baqarah: 200)

Sebab itu wahai saudaraku, sepanjang kita masih kuat, masih sehat wal'afiat dan mumpung kita masih diberi waktu, marilah kita berlomba-lomba beramal sholeh untuk mengisi tabungan akhirat, marilah kita menanam kebaikan dengan penuh keikhlasan semata-mata karena mengharapkan ridhla Allah. Ketahuilah bahwa bekal akhirat itu tidak hanya: Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang saleh saja, tetapi lebih luas dari itu!

Marilah kita renungkan peringatan Allah dalam al-Qur'an: "Apakah kalian akan mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian cobaan atau ujian sebagaimana yang telah menimpa umat sebelum kalian. Mereka telah ditimpa bencana dan penderitaan yang amat besar, dan mereka digoncangkan imannya dengan hebat, sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS.2 Al-Baqarah: 214).

Kemudian firman-Nya: "Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang yang berjihad di antara kalian, dan belum nyata di antara kalian orang-orang yang sabar." (QS.3 Ali Imran:142).

Apabila kita renungkan ayat-ayat diatas, kiranya segala kebaikan yang telah kita perbuat, masih belum seberapa, sebab masih banyak lagi hal-hal yang harus diperbuat. Manusia sebagai makhluk sosial, dituntut untuk memandang kehidupan ini dari segala segi. Sudahkah kita hidup bertetangga dengan memenuhi segala hak mereka? Sebagai makhluq Allah, sudahkah kita mematuhi perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya dengan kaffah dan istiqomah? Sebagai khalifah-Nya dimuka bumi, sudahkah kita memelihara, menjaga dan memanfaatkan anugrah-Nya berupa hutan, sumberdaya alam sebagaimana mestinya? Sebagai warga negara, sudahkah kita memenuhi panggilan tanah air? Dan masih banyak hal-hal lainnya!

Demikianlah lima unsur bagi kehidupan yang baik menurut pandangan Islam. Mudah-mudahan kita semua diberi petunjuk untuk memperoleh lima unsur tersebut, dan tergolong orang yang bahagia di dunia dan akhirat.

Amin....

Akhirulkalam, marilah kita renungkan bersama firman Allah swt: "Yaitu orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menuruh berbuat yang ma'ruf dan mencegah daripada perbuatan yang munkar. Dan hanya kepada Allah-lah kembalinya segala urusan." (QS.22 al-Hajj: 41).

Oleh: Hariswan - Blog As Sunnah

2 Choices

Jerry is the manager of a restaurant. He is always in a good mood.When someone would ask him how he was doing, he would always reply, "If i were any better, i would be twins!" Many of the waiters at his restaurant quit their jobs when he changed jobs, so they could follow him around from restaurant to restaurant.

Why?
Because Jerry was a natural motivator.

If an employee was having a bad day, Jerry was always there, telling the employee how to look on the positive side of the situation. Seeing this style really made me curious, so one day i went up to Jerry and asked him :
"I don't get it! No one can be a positive person all of the time. How do you do it?"

Jerry replied, "Each morning i wake up and say to myself, i have two choices today. I can choose to be in a good mood or i can choose to be in a bad mood. I always choose to be in a good mood. Each time something bad happens, i can choose to be victim or i can choose to learn from it. I always choose to learn from it. Every time someone comes to me complaning or i can point out the positive side of life. I always choose the positive side of life"

"But it's not always that easy," i protested.
"Yes it is,' Jerry said.
"Life is all about choices. When you cut away all the junk every situation is a choice.
You choose how you react to situations.
You choose how people will affect your mood.
You chose to be in good mood or bad mood.
It's your choice how you live your life."

Several years later, i heard that Jerry accidentally did something you are never to do in the restaurant business. He left the back door of his restaurant open. And then? In the morning, he was robbed by three armed men. They want? #123*+!@$%&*~ While Jerry trying to open the safe box, his hand, shaking from nervousness, slipped off the combination. The robbers panicked and shot him.

Luckily, Jerry was found quickly and rushed to the hospital. After 18 hours of surgery and weeks of intensive care,Jerry was released from the hospital with fragments of the bullets still in his body.

I saw Jerry about six months after the accident. When I asked him how he was, he replied, "If I were any better, I'd be twins. Want to see my scars?" I declined to see his wounds, but did ask him what had gone through his mind as the robbery took place."The first thing that went through my mind was that I should have locked the back door," Jerry replied. "Then, after they shot me, as I lay on the floor, I remembered that I had two choices: I could choose to live or could choose to die. I chose to live."

"Weren't you scared“ I asked?
Jerry continued, "The paramedics were great. They kept telling me I was going to be fine. But when they wheeled me into the Emergency Room and I saw the expression on the faces of the doctors and nurses, I got really scared. In their eyes, I read 'He's a dead man.'I knew I needed to take action."

"What did you do?" I asked.
"Well, there was a big nurse shouting questions at me," said Jerry. "She asked if I was allergic to anything." 'Yes,' I replied. The doctors and nurses stopped working as they waited for my reply. I took a deep breath and yelled, 'Bullets!' Over their laughter, I told them,'I am choosing to live. Please operate on me as if I am alive, not dead'."

Jerry lived thanks to the skill of his doctors, but also because of his amazing attitude. I learned from him that every day you have the choice to either enjoy your life or to hate it. The only thing that is truly yours -- that no one can control or take from you-is your attitude, so if you can take care of that, everything else in life becomes much easier.

Satu kisah yang menarik untuk dijadikan teladan....

Pada suatu sore seorang ayah bersama anaknya yang baru saja menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka. Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pohon. Si ayah lalu menunjuk ke arah gagak sambil bertanya, "Nak, apakah benda tersebut?" "Burung gagak", jawab si anak.

Si ayah mengangguk-angguk, namun beberapa saat kemudian mengulangi lagi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi lalu menjawab dengan sedikit keras, "Itu burung gagak ayah!"

Tetapi sejenak kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang sama. Si anak merasa agak marah dengan pertanyaan yang sama dan diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih keras, "BURUNG GAGAK!!"

Si ayah terdiam seketika. Namun tidak lama kemudian sekali lagi mengajukan pertanyaan yang sama sehingga membuatkan si anak kehilangan kesabaran dan menjawab dengan nada yang ogah-ogahan menjawab pertanyaan si ayah, "Gagak ayah.......".

Tetapi kembali mengejutkan si anak, beberapa saat kemudian si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanyakan pertanyaan yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar kehilangan kesabaran dan menjadi marah.
"Ayah!!! saya tidak mengerti ayah mengerti atau tidak. Tapi sudah lima kali ayah menanyakan pertanyaan tersebut dan sayapun sudah memberikan jawabannya. Apakah yang ayah ingin saya katakan???? Itu burung gagak, burung gagak ayah.....", kata si anak dengan nada yang begitu marah.

Si ayah kemudian bangkit menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang terheran-heran pinga. Sebentar kemudian si ayah keluar lagi dengan membawa sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih marah dan bertanya-tanya. Ternyata benda tersebut sebuah diari lama.

"Coba kau baca apa yang pernah ayah tulis di dalam diari itu", pinta si ayah. Si anak taat dan membaca bagian yang berikut..........
"Hari ini aku di halaman bersama anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya, "Ayah, apakah itu?". Dan aku menjawab, "Burung gagak". Walau bagaimanapun, anakku terus bertanya pertanyaan yang sama dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sampai 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi rasa cinta dan sayang aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap bahwa hal tersebut menjadi suatu pendidikan yang berharga."

Setelah selesai membaca bagian tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si ayah yang kelihatan sayu. Si ayah dengan perlahan bersuara, " Hari ini ayah baru menanyakan kepadamu pertanyaan yang sama sebanyak lima kali, dan kau telah kehilangan kesabaran dan marah."

Pengorbanan Sang Ibu Kijang

Seorang raja telah membiasakan diri memakan daging kijang setiap hari, sehingga tanpa daging kijang hidupnya tidak bergairah. Karena itu maka setiap hari berburu kijang dengan panahnya. Dalam perburuan itu para petani selalu dipaksa turut serta membantu, sehingga lama-kelamaan merasa keberatan, karena bagai mereka hal itu membuang waktu yang tidak berguna.

Para petani kemudian mengusulkan kepada raja, bahwa mereka akan mengusahakan suatu lapangan yang dipagar, dimana kelak kijang-kijang hasil buruan akan dikumpulkan. Dengan jalan demikian maka para petani tidak usah membuang waktu dengan sia-sia.

Raja setuju usul petani tersebut, maka kijang-kijang dari hutan dikumpulkan pada satu tempat. Tiap-tiap hari raja datang ke lapangan tersebut untuk memburu dan membunuh seekor kijang. Tentu saja tiap-tiap hari semua kijang di lapangan itu merasa gelisah apabila raja datang dengan panahnya. Maka pemimpin mereka, seekor kijang kencana, datang menghadap raja dengan usul, agar tiap-tiap hari raja mengambil saja seekor kijang untuk dibunuh di dapur istana. Dengan cara demikian maka kijang-kijang di lapangan tidak lagi menyaksikan siksaan terhadap kawan mereka. Raja setuju dan tiap-tiap hari seekor kijang diambil dibawa ke dapur istana untuk disembelih di sana.

Pada suatu hari jatuh giliran pada kijang yang sedang mengandung, yang dalam waktu singkat akan melahirkan anaknya. Kijang tersebut menghadap pimpinannya, kijang kencana, untuk meminta penundaan waktu, sampai anak yang dikandungnya lahir dan cukup kuat untuk hidup sendiri. Kijang kencana dapat menyetujui permintaan itu, dan sebagai gantinya ia menunjuk dirinya sendiri.

Ketika raja mendengar hal ini, ia sangat kagum dan karenanya ingin mengetahui apakah yang mendorong kijang kencana mau mengorbankan diri sendiri; maka dipanggilnya kijang kencana menghadap.

Kijang kencana tatkala ditanya menjelaskan bahwa soal pengorbanan memang jadi pokok kewajiban tiap-tiap makhluk hidup dalam masyarakat masing-masing. "Akan tetapi, antara pengorbanan-pengorbanan yang dilakukan untuk sesama hidup, tidak ada yang dapat mengimbangi pengorbanan seorang ibu untuk anaknya. Seperti cinta seorang ibu kepada anaknya dan dengan senang hati mengorbankan segala-galanya dengan penuh cinta kasih, demikian pula O Sri Baginda, hendaknya tuan memimpin dan melindungi rakyat tuan".

Sri baginda raja merasa terharu dan tergugah hatinya, sehingga sejak hari itu beliau berjanji tidak akan memakan daging kijang lagi. Kemudian raja memerintahkan agar semua kijang di lapangan dilepas kembali ke hutan. Kijang kencana mengajukan usul lagi: "Apa manfaatnya ya Baginda raja, para kijang dilepas kembali ke hutan, jika jiwa mereka belum terjamin keselamatannya?"

Maka raja memerintahkan kepada segenap rakyat di negeri itu untuk tidak membunuh binatang. Atas perintah itu maka para petani mengajukan keberatannya, karena khawatir tanaman mereka dapat dirusak oleh binatang-binatang. Berdasarkan keputusan jalan tengah, maka petani diharuskan membuat pagar bagi tanaman mereka. Di luar pagar itu binatang tidak akan diganggu, tetapi binatang-binatang juga tidak dapat mengganggu tanaman milik petani di dalam pagar.

Sahabat Andoy

Ada seorang bocah kelas 4 SD di suatu daerah di Milaor Camarine Sur (Filipina) yang setiap hari mengambil rute melintasi daerah tanah berbatuan dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya dimana banyak kendaraan yang melaju kencang dan tidak beraturan. Setiap kali berhasil menyeberangi jalan raya tersebut, bocah ini mampir sebentar ke Gereja setiap pagi hanya untuk menyapa Tuhan. Tindakannya selama ini diamati oleh seorang Pendeta yang merasa terharu menjumpai sikap bocah yang lugu dan beriman tersebut.

"Bagaimana kabarmu Andoy? Apakah kamu akan ke sekolah ?"
"Ya, Bapa Pendeta!" balas Andoy dengan senyumnya yang menyentuh hati Pendeta tersebut.

Dia begitu memperhatikan keselamatan Andoy sehingga suatu hari dia berkata kepada bocah tersebut, "Jangan menyeberang jalan raya sendirian, setiap kali pulang sekolah kamu boleh mampir ke Gereja dan saya akan menemani kamu ke seberang jalan, jadi dengan cara tersebut saya bisa memastikan kamu pulang ke rumah dengan selamat."
"Terima kasih, Bapa Pendeta."
"Kenapa kamu tidak pulang sekarang?? Apakah kamu tinggal di Gereja setelah pulang sekolah?"
"Aku hanya ingin menyapa kepada Tuhan .. sahabatku."
Dan Pendeta itu segera meninggalkan Andoy untuk melewatkan waktunya di depan altar berbicara sendiri, tapi kemudian Pendeta tersebut bersembunyi di balik altar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Andoy kepada Bapa di Surga.

"Engkau tahu Tuhan, ujian matematikaku hari ini sangat buruk, tetapi aku tidak mencontek walaupun temanku melakukannya. Aku makan satu kue dan minum airku. Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa kumakan hanyalah kue ini. Terima kasih buat kue ini Tuhan!. Aku tadi melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang terakhir buatnya.. Lucunya, aku nggak begitu lapar. Lihat, ini selopku yang terakhir, aku mungkin harus berjalan tanpa sepatu minggu depan. Engkau tahu ini sepatu ini akan rusak, tapi tidak apa-apa .. paling tidak aku tetap dapat pergi ke sekolah.

Orang-orang berbicara bahwa kami akan mengalami musim panen yang susah bulan ini, bahkan beberapa temanku sudah berhenti sekolah. Tolong bantu mereka supaya bisa sekolah lagi, tolong Tuhan??
Oh ya, Engkau tahu Ibu memukulku lagi. Ini memang menyakitkan, tapi aku tahu sakit ini akan hilang, paling tidak aku masih punya seorang Ibu,
Tuhan. Engkau mau lihat lukaku??? Aku tahu Engkau mampu menyembuhkannya, disini .. disini .. aku rasa Engkau tahu yang ini khan ..?? Tolong jangan marahi Ibuku ya ..??? Dia hanya sedang lelah dan kuatir akan kebutuhan makanan dan biaya sekolahku.. Itulah mengapa dia memukul kami.

Oh Tuhan, aku rasa aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis yang cantik di kelasku, namanya Anita... Menurut Engkau apakah dia akan menyukaiku ??? Bagaimanapun juga paling tidak aku tahu Engkau tetap menyukaiku karena aku tidak usah menjadi siapapun hanya untuk menyenangkanMu. Engkau adalah sahabatku.
Hei.. ulang tahunMu tinggal dua hari lagi, apakah Engkau gembira??
Tunggu saja sampai Engkau lihat, aku punya hadiah untukMu. Tapi ini kejutan bagiMu. Aku berharap Engkau akan menyukainya.Ooops aku harus pergi sekarang."

Kemudian Andoy segera berdiri dan memanggil Pendeta itu, "Bapa Pendeta.. Bapa Pendeta.. aku sudah selesai bicara dengan sahabatku, anda bisa menemaniku menyeberang jalan sekarang!"

Kegiatan tersebut berlangsung setiap hari, Andoy tidak pernah absen sekalipun. Pendeta Agaton berbagi cerita ini kepada jemaat di Gerejanya setiap hari Minggu karena dia belum pernah melihat suatu iman dan kepercayaan yang murni kepada Allah.. suatu pandangan positif dalam situasi yang negatif.

Pada hari Natal, Pendeta Agaton jatuh sakit sehingga dia tidak bisa memimpin gereja dan dirawat di rumah sakit. Gereja diserahkan pengelolaannya kepada 4 wanita tua yang tidak pernah tersenyum dan selalu menyalahkan segala sesuatu yang orang lain perbuat. Mereka juga sering mengutuki orang yang menyinggung mereka.

Mereka sedang berlutut memegangi rosario mereka ketika Andoy tiba dari pesta natal di sekolahnya, dan menyapa "Halo Tuhan.. aku ...'
"Kurang ajar kamu bocah!!! Tidakkah kamu lihat kami sedang berdoa??!!! Keluar!!!"

Andoy begitu terkejut, " Di mana Bapa Pendeta Agaton ..??? Dia seharusnya membantuku menyeberangi jalan raya.. Dia selalu menyuruhku mampir lewat pintu belakang Gereja. Tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Tuhan Yesus - ini hari ulang tahunNya, aku punya hadiah untukNya."

Ketika Andoy mau mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, seorang dari keempat wanita itu menarik kerahnya dan mendorongnya keluar Gereja. Sambil membuat tanda salib ia berkata "Keluarlah bocah .. kamu akan mendapatkannya !!!"

Oleh karena itu Andoy tidak punya pilihan lain kecuali sendirian menyeberangi jalan raya yang berbahaya tersebut di depan Gereja. Dia mulai menyeberang. Ketika tiba-tiba sebuah bus datang melaju dengan kencang - di situ ada tikungan yang tidak terlihat pandangan. Andoy melindungi hadiah tersebut di dalam saku bajunya, sehingga dia tidak melihat datangnya bus tersebut. Waktunya hanya sedikit untuk menghindar .. dan Andoy tewas seketika. Orang-orang disekitarnya berlarian dan mengelilingi tubuh bocah malang tersebut yang sudah tak bernyawa.

Tiba-tiba, entah muncul dari mana ada seorang pria berjubah putih dengan wajah yang halus dan lembut namun penuh dengan air mata datang dan memeluk tubuh bocah malang tersebut. Dia menangis. Orang-orang penasaran dengan dirinya dan bertanya, " Maaf Tuan, apakah anda keluarga bocah malang ini? Apakah anda mengenalnya?" Pria tersebut dengan hati yang berduka karena penderitaan yang begitu dalam segera berdiri dan berkata," Dia adalah sahabatku." Hanya itulah yang dia katakan. Dia mengambil bungkusan hadiah dari dalam baju bocah malang tersebut dan menaruhnya di dadanya. Dia lalu berdiri dan membawa pergi tubuh bocah malang tersebut dan keduanya kemudian menghilang. Kerumunan orang tersebut semakin penasaran...

Di malam Natal, Pendeta Agaton menerima berita yang sungguh mengejutkan. Dia berkunjung ke rumah Andoy untuk memastikan pria misterius berjubah putih tersebut. Pendeta itu bertemu dan bercakap-cakap dengan kedua orang tua Andoy.

"Bagaimana anda mengetahui putera anda meninggal ?"
"Seorang pria berjubah putih yang membawanya kemari." ucap ibu Andoy
terisak.
"Apa katanya ?"
Ayah Andoy berkata ,"Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia sangat berduka. Kami tidak mengenalnya namun dia terlihat sangat kesepian atas meninggalnya Andoy. Sepertinya Dia begitu mengenal Andoy dengan baik. Tapi ada suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan menegani Dirinya. Dia menyerahkan anak kami dan tersenyum lembut. Dia menyibakkan rambut Andoy dari wajahnya dan memberikan kecupan di keningnya kemudian Dia membisikkan sesuatu .."
"Apa yang dia katakan ?"
"Dia berkata kepada puteraku .." ujar sang Ayah, "Terima kasih buat kadonya. Aku akan segera berjumpa denganmu. Engkau akan bersamaku." Dan sang Ayah melanjutkan, "Anda tahu kemudian . semuanya itu terasa begitu indah.. Aku menangis tetapi tidak tahu mengapa bisa demikian. Yang aku tahu aku menangis karena bahagia.. Aku tidak dapat menjelaskannya Bapa Pendeta, tetapi ketika Dia meninggalkan kami ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami, aku merasakan kasihnya yang begitu dalam di hatiku.. Aku tidak dapat melukiskan sukacita di dalam hatiku. Aku tahu puteraku sudah berada di Surga sekarang. Tapi tolong katakan padaku, Bapa Pendeta.. siapakah Pria ini yang selalu bicara dengan puteraku setiap hari di Gerejamu ? Anda seharusnya mengetahui karena anda selalu berada disana setiap hari, kecuali pada waktu puteraku meninggal ."

Pendeta Agaton tiba-tiba merasa air matanya menetes di pipinya, dengan lutut gemetar dia berbisik," Dia tidak berbicara dengan siapa-siapa .. kecuali dengan Tuhan."

Pohon yg kehilangan rohnya

Kali ini, saya ingin bercerita tentang salah satu kebiasaan yang ditemui pada penduduk yang tinggal di sekitar kepulauan Solomon, yang letaknya di Pasifik Selatan.

Nah, penduduk primitif yang tinggal di sana punya sebuah kebiasaan yang menarik yakni meneriaki pohon. Untuk apa ? Kebisaan ini ternyata mereka lakukan apabila terdapat pohon dengan akar-akar yang sangat kuat dan sulit untuk dipotong dengan kapak.

Inilah yang mereka lakukan, jadi tujuannya supaya pohon itu mati.Caranya adalah, beberapa penduduk yang lebih kuat dan berani akan memanjat hingga ke atas pohon itu.

Lalu, ketika sampai di atas pohon itu bersama dengan penduduk yang ada di bawah pohon, mereka akan berteriak sekuat-kuatnya kepada pohon itu. Mereka lakukan teriakan berjam-jam, selama kurang lebih empat puluh hari.

Dan, apa yang terjadi sungguh menakjubkan. Pohon yang diteriaki itu perlahan-lahan daunnya akan mulai mengering. Setelah itu dahan-dahannya juga akan mulai rontok dan perlahan-lahan pohon itu akan mati dan mudah ditumbangkan.

Kalau kita perhatikan apa yang dilakukan oleh penduduk primitif ini sungguhlah aneh. Namun kita bisa belajar satu hal dari mereka. Mereka telah membuktikan bahwa teriakan-teriakan yang dilakukan terhadap mahkluk hidup tertentu seperti pohon akan menyebabkan benda tersebut kehilangan rohnya.

Akibatnya, dalam waktu panjang, makhluk hidup itu akan mati. Nah, sekarang, apakah yang bisa kita pelajari dari kebiasaan penduduk primitif di kepulauan Solomon ini ? O, sangat berharga sekali! Yang jelas, ingatlah baik-baik bahwa setiap kali Anda berteriak kepada mahkluk hidup tertentu maka berarti Anda sedang mematikan rohnya.

Pernahkah Anda berteriak pada anak Anda ?
Ayo cepat !
Dasar leletan?
Bego banget sih.
Hitungan mudah begitu aja nggak bisa dikerjakan?
Ayo, jangan main-main disini.
Berisik !
Bising !?

Atau, mungkin Anda pun berteriak balik kepada pasangan hidup Anda karena Anda merasa sakit hati?
Cuih! Saya nyesal kawin dengan orang seperti kamu tahu nggak!
Iii!Bodoh banget jadi laki nggak bisa apa-apa !
Aduh. Perempuan kampungan banget sih !?

Atau, bisa seorang guru berteriak pada anak didiknya?
E, tolol. Soal mudah begitu aja nggak bisa. Kapan kamu mulai akan jadi pinter?

Atau seorang atasan berteriak pada bawahannya saat merasa kesal, ?
E tahu ngak ? Karyawan kayak kamu tuh kalo pergi aku kagak bakal nyesel.
Ada banyak yang bisa gantiin kamu?
Sial ! Kerja gini nggak becus ? Ngapain gue gaji elu?

Ingatlah ! Setiap kali Anda berteriak pada seseorang karena merasa jengkel, marah, terhina, terluka ingatlah dengan apa yang diajarkan oleh penduduk kepulauan Solomon ini. Mereka mengajari kita bahwa setiap kali kita mulai berteriak, kita mulai mematikan roh pada orang yang kita cintai.

Kita juga mematikan roh yang mempertautkan hubungan kita. Teriakan-teriakan, yang kita keluarkan karena emosi-emosi kita perlahan-lahan, pada akhirnya akan membunuh roh yang telah melekatkan hubungan kita. Jadi, ketika masih ada kesempatan untuk berbicara baik-baik, cobalah untukmendiskusikan mengenai apa yang Anda harapkan.

Coba kita perhatikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Teriakan, hanya kita berikan tatkala kita bicara dengan orang yang jauh jaraknya, bukan ? Nah, tahukah Anda mengapa orang yang marah dan emosional, mengunakan teriakan-teriakan padahal jarak mereka hanya beberapa belas centimeter.

Mudah menjelaskannya. Pada realitanya, meskipun secara fisik mereka dekat tapi sebenarnya hati mereka begitu jauh. Itulah sebabnya mereka harus saling berteriak !Selain itu, dengan berteriak, tanpa sadar mereka pun mulai berusaha melukai serta mematikan roh orang yang dimarahi kerena perasaan-perasaan dendam,benci atau kemarahan yang dimiliki.

Kita berteriak karena kita ingin melukai, kita ingin membalas.Jadi mulai sekarang ingatlah selalu. Jika kita tetap ingin roh pada orang yang kita sayangi tetap tumbuh, berkembang dan tidak mati, janganlah menggunakan teriakan-teriakan.
Tapi, sebaliknya apabila Anda ingin segera membunuh roh orang lain ataupun roh hubungan Anda, selalulah berteriak. Hanya ada 2 kemungkinan balasan yang Anda akan terima. Anda akan semakin dijauhi. Ataupun Anda akan mendapatkan teriakan balik, sebagai balasannya.

Saatnya sekarang, kita coba ciptakan kehidupan yang damai, tanpa harus berteriak-teriak untuk mencapai tujuan kita.

Saya juga pernah membaca artikel menarik tentang teknik berburu monyet dihutan-hutan Afrika, caranya begitu unik. Sebab, teknik itu memungkinkan si pemburu menangkap monyet dalam keadaan hidup-hidup tanpa cedera sedikitpun.Maklum, ordernya memang begitu.Sebab, monyet-monyet itu akan digunakan sebagai hewan percobaan atau binatang sirkus di Amerika.

Cara menangkapnya sederhana saja. Sang pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang dan sempit. Toples itu diisi kacang yang telah diberi aroma.Tujuannya,agar mengundang monyet-monyet datang. Setelah diisi kacang,toples-toples itu ditanam dalam tanah dengan menyisakan mulut toples dibiarkan tanpa tutup.

Para pemburu melakukannya di sore hari. Besoknya, mereka tingal meringkus monyet-monyet yang tangannya terjebak di dalam botol tak bisa dikeluarkan.Kok, bisa? Tentu kita sudah tahu jawabnya.Monyet-monyet itu tertarik pada aroma yang keluar dari setiap toples.Mereka mengamati lalu memasukkan tangan untuk mengambil kacang-kacang yang ada di dalam. Tapi karena menggenggam kacang, monyet-monyet itu tidak bisamenarik keluar tangannya. Selama mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula mereka terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat. Jadi,monyet-monyet itu tidak akan dapat pergi ke mana-mana !

Mungkin kita akan tertawa melihat tingkah bodoh monyet-monyet itu. Tapi,tanpa sadar sebenamya kita mungkin sedang menertawakan diri sendiri.Ya, kadang kita bersikap seperti monyet-monyet itu. Kita mengenggam erat setiap permasalahan yang kita miliki layaknya monyet mengenggam kacang.Kita sering mendendam, tak mudah memberi maaf, tak mudah melepaskan maaf..Mulut mungkin berkata ikhlas, tapi bara amarah masih ada di dalam dada.Kita tak pernah bisa melepasnya. Bahkan, kita bertindak begitu bodoh,membawa "toples-toples" itu ke mana pun kita pergi. Dengan beban berat itu,kita berusaha untuk terus berjalan. Tanpa sadar, kita sebenamya sedang terperangkap penyakit hati yang akut.Teman,sebenarnya monyet-monyet itu bisa selamat jika mau membuka genggaman tangannya. Dan, kita pun akan selamat dari penyakit hati jika sebelum tidur kita mau melepas semua "rasa tidak enak" terhadap siapapun yang berinteraksi dengan kita. Dengan begitu kita akan mendapati hari esok begitu cerah dan menghadapinya dengan senyum. Dan, kita pun tahu surga itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang hatinya betul-betul bersih. Jadi, kenapa tetap kita genggam juga perasan tidak enak itu?